Jenis Pewarna Batik Sintetis

pewarna batik sintetis

Pewarna batik sintetis saat ini menjadi kebutuhan dengan makin banyaknya muncul batik yang berwarna warni. Jika masih menganut warna batik klasik, sebenarnya hanya beberapa warna saja yang lazim dijumpai pada batik tradisional, warna-warna tersebut antara lain: hitam, coklat terang hingga coklat tua, kuning, hijau, biru dan merah. Warna yang terpakai sangat terbatas kaena jaman dahulu teknik mewarnai batik masih menggunakan bahan-bahan alami dari alam, contohnya tananman uang mempunyai warna yang kuat adalah soga untuk warna coklat, secang untuk warna merah, dan kunyit untuk kuning.

Namun seiring perkembangan jaman, dengan alasan kepeaktisan dan permintaan yang begitu tinggi, kini parapengusaha batik beralih menggunakan pewarna batik sintetis. Zat pewarna batik sintetis adalah zat pewarna yang diperoleh dari beberapa reaksi kimia. Zat pewarna batik sintentis untuk industri tekstil sangat beragam, namun tidak sembarang pewarna sintetis dapat diterapkan dalam proses pewarnaan batik, hal ini disebabkan karena pencelupan warna untuk batik harus pada suhu kamar, karena jika terlalu panas akan bereaksi pada malam (lilin) yanh dipakai untuk merintangi pola batik. Berikut beberapa pewarna batik sintetis yang dapat digunakan untuk kain batik:

  1. Naphtol. Naphtol adalah nama garam yang berfungsi untuk pembangkit warna. Naphtol idak larut dalam air sehingga memerlukan larutan kostik soda untuk bisa melarutkannya. Teknik pencelupan dengan naphtol mengalami dua tahap pencelupan. Pada celupan pertama belum nampak warna yang dikehendaki, sedangkan baru pada pencelupan kedua warna yang diinginkan akan semakin jelas dengan bantuan garam diazodium sebagai katalisator. Gelap atau terang warna yang dikehendaki sangat bergantung pada kemampuan jenis serat kain untuk menyerap warna. Napthol digunakan untuk warna-warna yang cenderung gelap karena pewarna ini hanya bisa dipakai dalam teknik celupan.
  2. Indigosol. Karateristik zat warna ini yaitu ketahanan lunturnya relatif baik, warna yang dihasilkan merata, dan waena-waena yang dihasilkan merupakan warna-warna cerah hingga pastel. Indigosol dapat dipakai pada teknik celup dan coletan. Zat pewarna ini juga harus diproses dua kali. Proses pertama belum nampak warna yang dikehendaki sedangkan pada tahap kedua setelah melalui proses pencelupan ulang dengan arutan asam (Asam Klorida dan Asam Sulfat) dan melalui proses oksidasi, maka warna sesuai keinginan akan muncul. Zat pewarna indigosol membutuhkan Natrium Nitrit sebagai oksidator.
  3. Rapid. Zat pewarna rapid biasa digunakan dalam pewarnaan dengan teknik coletan. Cara kerja pewarna jni ialah dengan mereaksikan komponen naphtol dengan garam diazonium yang telah distabilkan. Warna yang dihasilkan dari zat warna ini ialah warna merah yang tidak ditemui pada pewarnaan dengan indigosol. Zat untuk pembangkit warna adalah Asam Klorida (HCl) dam Asam Sukfat (H2SO4).

Karena zat pewarna diatas merupakan hasil dari reaksi kimia maka membutuhkan katalisator untuk membantu reaksi sempurna pertemuan antara pewarna dengan kain. Beberapa katalisator yang lazim dipakai dslan industri batik antara lain: HCl, Asam sulfat, Soda abu, Turkish red oil, teepol.

Batiksolo.id toko batik online yang menyediakan aneka jenis kain Batik Solo dengan harga terbaik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *