Batik Garutan Batik Khas Kota Garut

batik garutan

Batik Garutan orang menyebutnya, batik khas Kota Garut  dengan ciri khas nya tersendiri. Bentuk motif batik Garut merupakan hasil dari cipta rasa pengrajin, terhadap kehidupan sosial budaya, falsafah hidup, dan adat istiadat masyarakat sunda. Contoh ragam motif batik Garut hadir dengan bentuk geometrikal serta motif flora dan fauna dengan ciri khas ragam hiasnya tersendiri. Bentuk nyata dari motif geometrikal, seperti; garis diagonal dan bentuk kawung atau belah ketupat. Warna krem menjadi warna yang mendominasi kain batik, disertai warna-warna cerah lainnya, yang menjadi karakteristik khas batik garutan.

Keberadaan batik Garut merupakan warisan dari nenek moyang, yang sudah berlangsung secara turun menurun, dan dulunya tercipta karena hasil pengaruh kuat penduduk yang datang dari Jawa Tengah. Pada masa perang Diponegoro melawan Belanda, terjadi perpindahan penduduk besar-besaran ke wilayah barat pada tahun 1825. Sebagian pengungsi adalah para pengrajin batik Jawa Tengah, yang kemudian memberikan pengaruh pada batik Tasikmalaya, Indramayu, dan Garut. Bahkan pada tahun 1945, batik Garut menjadi semakain populer dan disebut sebagai Batik Tulis Garutan. Batik ini mencapai masa kejayaannya pada tahun 1967 hingga 1985.

Dulu, batik Garut memiliki proses pembuatan dan pewarnaan yang sangat rumit. Keindahan warna pada batik Garut ini bersumber pada proses pengetelah atau penggodokan kain sebagai bahan dasarnya. Sebelum digambar dengan lilin malam, kain batik mengalami proses pengetelah selama kurang lebih satu bulan. Kain direndam dalam campuran minyak kacang dan air merang. Lalu kemudian di jemur hingga kering, dan proses tersebut dilakukan berulang kali selama dua minggu. Setelah dua minggu, kain diembunkan, dan digantung tanpa terkena cahaya matahari langsung. Proses pengetelan tersebut idealnya dilaksanakan selama 40 hari. Ketika proses tersebut usai, kain akan berwarna mengkilap, tidak mudah luntur, dan bahkan bisa tahan hingga lebih dari 100 tahun. Namun proses seperti itu kini sudah jarang dilakukan karena tidak efisien dan efektif lagi untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Sayangnya kini karena keterbatasan bahan dan modal, serta lemahnya strategi pemasaran, penerus dari pengrajin batik Garut sudah mulai mengalami penurunan. Hal tersebut juga disebabkan karena adanya persaingan antar produsen batik lain, yang dalam pembuatan batiknya menggunakan teknik batik lebih modern seperti mesin printing. Untuk mendapatkan batik ini anda bisa menghubungi toko batik online http://batiksolo.id 08118605394 aneka batik nusantara dengan beragam kualitas tersedia disini. 

 

Ciri Khas Batik Madura

Ciri khas batik Madura dengan keindahannya yang penuh warna dan esensi seni bercita rasa unggul. Lewat motifnya, batik madura menceritakan tentang kehidupan sehari-hari masyarakat sekitar Madura itu sendiri. Sehingga menghasilkan corak yang berbeda di setiap desain batik pada kain. Ide ragam corak motif batik madura bersumber dari motif hewan, tumbuhan, serta kombinasi keduanya atau bahkan berdasarkan selera pengrajin. Berdasarkan lokasi pembuatannya, Motif Batik Madura terbagi ke dalam dua jenis. Pertama, motif batik daerah pesisir. Menonjolkan warna-warna terang yang cukup berani pada motifnya. Yang kedua, motif batik daerah pedalaman. Motif ini lebih menonjolkan warna-warna lembut yang redup dan corak yang klasik. Satu ciri khas dalam motif batik madura yang sangat menonjol adalah dengan keberadaan garis-garis dominan yang terdapat pada desain batiknya. Setiap desain batik madura memiliki cerita dan filosofi uniknya sendiri, karena timbul atas representasi terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat Madura.

Seiring perkembangan zaman, motif batik madura pun dikembangkan oleh para pengrajinnya dengan cara menyesuaikan zaman, agar dapat diterima oleh semua kalangan. Motif-motifnya pun disesuaikan dengan mode saat ini, namun tetap menggunakan ciri khas batik madura seperti dominasi warna merah pada bunga dan hijau pada daun atau tangkai. Saat ini warna dan corak batik dari Madura memang sudah lebih variatif dari sebelumnya. Sehingga sudah banyak yang mengincar batik madura ini dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Sejarah Motif Batik Madura pun masih terkait dengan peran kerajaan Pamelingan di Pamekasan, Madura. Dalam sejarahnya, batik madura berkembang pada abad ke-16 hingga abad ke-17 masehi. Saat terjadi peperangan di Pamekasan Madura Raden Azhar (Kiai Penghulu Bagandan) melawan Ke’ Lesap (putera Madura keturunan Cakraningrat I) tersebar kabar bahwa Raden Azhar mengenakan pakaian kebesarannya, yang menggunakan model baju batik motif parang atau motif batik leres dalam istilah bahasa madura. Sejak saat itu batik pun diperkenalkan di wilayah Madura.

Toko batik online http://batiksolo.id 08118605394 menyediakan aneka batik berkualitas yang bisa dibeli secara online dengan aneka jenis pilihan kualitas baik untuk eceran ataupun grosiran.

Motif Batik Mega Mendung Pesona Batik Cirebon

batik mega mendung

Motif Batik Mega Mendung merupakan motif kain batik yang berasal dari Cirebon. Dengan ciri khas motif yang menyerupai bentuk awan-awan, motif batik ini menjadi sebuah ikon karya seni kota Cirebon memiliki pesona yang luar biasa. Kekhasan motif ini tidak hanya terletak pada motif yang berupa gambar menyerupai awan dengan warna-warna tegas saja, namun juga pada nilai-nilai filosofi yang terkandung dalam motifnya.

Lebih jauh lagi tentang filosofi Motif Batik Mega Mendung ini, kata ‘mendung’ sendiri berarti sebuah sifat manusia yang tidak mudah marah dan sabar. Ketika diterapkan dalam kehidupan nyata, ternyata makna tersebut diartikan sebagai wujud dari para seniman batik yang telaten, tidak mudah emosi, serta penyabar. Hal tersebut juga dimaknai lebih lanjut untuk para pemakainya, diharapkan pengguna motif ini dapat menjadi sosok pribadi yang sabar, bisa mendinginkan suasana, dan memiliki pribadi yang baik. Dalam motif batik ini, gambar awan yang dibuat secara horizontal dimaksudkan agar si awan mendung tersebut dapat mendinginkan suasana di bawahnya. Pasalnya, memang segala hal yang berhubungan dengan motif ini syarat akan makna mendalam, termasuk bagi orang-orang disekitarnya.

Makna Motif Batik Mega Mendung lainnya yang lebih mendalam dapat dilihat dari penggunaan warna pada proses pembatikkan. Unsur warna biru dengan selingan warna merah yang dulu selalu digunakan, menggambarkan maskulinitas dan juga suasana dinamis. Karena pada saat itu proses pembuatannya disertai dengan campur tangan laki-laki kaum tarekat yang sedari awal memang merintis tradisi batik di Cirebon. Warna biru dan merah tua juga secara psikologis menggambarkan masyarakat pesisir yang lugas, terbuka, dan egaliter. Ragam warna biru yang digunakan mulai dari warna biru muda yang menggambarkan makin cerahnya kehidupan, hingga biru tua yang menggambarkan awan gelap dengan kandungan air hujan dan memberi kehidupan.

Sedangkan untuk sejarah Motif Batik Mega Mendung sendiri berawal dari kedatangan bangsa China ke wilayah Cirebon, yang terutama merujuk pada pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Ratu Ong Tien pada abad ke-16. Bermula dari adanya proses percampuran kebudayaan lah kemudian rakyat Cirebon mulai mengenal beberapa benda seni seperti piring, keramik, dan kain yang bermotif awan. Di China, awan direpresentasikan oleh Kaum Sufi sebagai wujud dari konsep yang luas dan bebas. Kemudian hal ini menjadi perhatian para seniman batik Cirebon untuk menuangkannya ke dalam kain batik, dan menciptakan suatu nama motif baru yaitu Motif Batik Mega Mendung. Yang membedakan motif batik China dengan batik Mega Mendung terdapat pada pola bentuk awan. Motif batik China memiliki garis awan berbentuk lingkaran atau bulatan, sedangkan batik Mega Mendung berbentuk lonjong, segitiga, dan cenderung lancip.

http://batiksolo.id 08118605394 menyediakan aneka motif batik termasuk motif megamendung ini dengan berbagai kualitas dengan harga ecer ataupun grosiran.

Batik Cirebon Dan Batik Sumenep Pesona Batik Nusantara

batik cirebon

Batik Cirebon dan Batik Sumenep juga memiliki pesonanya sendiri, khazanah batik Nusantara tak hanya dimonopoli oleh sentra batik yang ada di Jawa Tengah seperti Solo, Jogja, dan Pekalongan. Ujung barat dan timur pulau Jawa juga menyimpan kekayaan batik yang khas. Di barat pulau Jawa asal daerah pembuat batik yang termasyur adalah Cirebon, sedangkan di timur Jawa terdapat batik Sumenep, Madura.

Batik Cirebon dibedakan menjadi dua, yakni batik keratonan dan batik pesisir. Batik keratonan dipengaruhi oleh keberadaan dua kerajaan di Cirebon, yakni keraton Kasepuhan dan Kanoman. Sedangkan pada batik pesisiran dipengaruhi oleh karakter masyarakat pesisir yang terbuka maka batik pesisiran merupakan hasil akulturasi berbagai etnis yang ada di pesisir Cirebon. Etnis Tionghoa membawa pengaruh  yang dapat ditemui pada motif mega mendung. Filosofi dari mega mendung ialah seperti pada kepercayaan Tionghoa, bahwa hujan dipercaya membawa kesuburan dan pembawa kehidupan.

Motif batik Cirebon pada dasarnya dapat digolongkan dalam lima jenis. Pertama, Wadasan. Motif wadasan memuat ornamen-ornamen khas keraton. Motif-motif wadasan diantaranya Singa Payung, Naga Saba, Taman Arum, Mega Mendung. Kedua, Geometris. Motif yang meniru bentuk geometri berulang, contoh motifnya adalah Tambal Sewu, Liris, Kawung, Lengko-lengko. Ketiga, Pangkaan (buketan). Menampilkan ornamen berupa rumpun pohon atau rangkaian bunga dan terdapat pola butung atau kupu sebagai ornamen pelengkap. Motif Pangkaan antara lain: Pring Sedapur, Kelapa Setundun, Soko Cino, Kembang Terompet. Keempat, Byur. Ciri khas motif ditandai dengan ornamen pelengkap bunga dan dedaunan kecil yang mengelilingi ornamen utama. Contohnya dapat dijumpai pada motif Karang Jahe, Mawar Sepasang, Dara Tarung, Banyak Angrum. Kelima, Semarangan. Motif ini menampilkan pola ceplok-ceplokan dengan ornamen berulang yang letaknya saling renggang. Contoh motifnya adalah Piring Selampad dan Kembang Kantil. Motif yang sangat khas dari Cirebon dan menjadi ikon adalah batik dengan corak Mega Mendung. Batik dengan corak ini tidak dimiliki oleh daerah lain.

Beralih ke bagian timur pulau Jawa, tepatnya ke Madura. Madura tak hanya tersohor dengan sate atau karapan sapi saja, ternyata batik Madura juga memiliki keunikan corak. Terdapat beberapa daerah penghasil batik di Madura, salah satunya di sentra batik Pakandangam, Bluto, Sumenep. Ciri khas batik Sumenep ialah adanya pewarnaan merah yang diterapkan  pada setiap ornamen bunga, daun, bahkan tangkai. Batik Sumenep juga termasuk batik pesisir yang banyak dipengaruhi oleh etnis Tionghoa. Warna-warna pada batik Sumenep cenderung cerah. Batik asal Sumenep yang menjadi buruan para kolektor batik adalah batik gentongan. Disebut demikian, karena proses perendaman kain batik dilakukan dalam sebuah gentong. Yang menjadikan batik ini diburu dan harganya sangat mahal ialah terletak pada proses pewarnaannya yang memakan waktu sangat lama, yakni 3-6 bulan. Keunikan batik gentongan ialah semakin dicuci maka warna yang dihasilkan akan semakin cerah.

Http://batiksolo.id 08118605394 toko batik online yang menyediakan aneka batik berkualitas dari berbagai daerah di Nusantara.

Motif Batik Pernikahan Adat Jawa

motif batik pernikahan

Motif batik pernikahan adalah salah satu fase penting dalam proses persiapan pernikahan adat Jawa. Sebagai orang jawa, setiap fase kehidupan tersebut tak bisa lepas dari pemakaian kain batik. Tak hanya sekedar desain gambar atau bentuk flora dan fauna, motif batik klasik memiliki filosofi dan makna sebagai doa dan harapan. Motif batik yang dipakai dalam prosesi adat Jawa gaya Surakarta berbeda antara motik jarik yang dipakai oleh mempelai pengantin dan orang tuanya.

Motif batik yang biasa dikenakan oleh mempelai pengantin beserta filosofinya antara lain:

  1. Motif Wahyu Tumurun. Secara harfiah wahyu berarti anugerah, tumurun artinya turun. Filosofinya bahwa diharapkan mempelai pengantin akan diliputi rasa kebahagiaan, kesejahteraan, serta limpahan petunjuk dari Tuhan Maha Kuasa.
  2. Motif SidoMukti. Filosofi yang ada dalam motif batik Sido Mukti ialah mengandung harapan akan masa depan yang baik bagi kedua mempelai berdua.
  3. Motif Sido Luhur. Motif ini memiliki makna berupa harapan agar pemakainya berbudi luhur, senantiasa berdoa serta selalu bersyukur atas anugerah Tuhan.
  4. Motif Sido Mulyo. Mulyo dalam bahasa Jawa berarti kemuliaan. Motif batik ini mengandung harapan agar pemakainya kelak saat membina rumah tangga mampu menjadikan keluarga yang mendapat kemuliaan.
  5. Motif Sido Asih. Asih dalam bahasa Jawa berarti cinta kasih. Filosofinya ialah agar mempelai berdua mampu menjalankan rumah tangga dengan penuh rasa kasih sayang.

Motif batik yang dikenakan oleh orangtua mempelai pengantin tidak sama seperti yang dipakai calon pengantin. Para orangtua memakai motif berbeda karena memang motif batik yang dipakai memiliki filosofi dan harapan yang berbeda dengan sang pengantin. Motif-motif batik yang biasa digunakan oleh orangtua mempelai dalam adat pernikahan jawa gaya Surakarta antara lain:

  1. Motif Sidodrajat. Motif ini memiliki makna kedudukan atau pangkat yang bagus. Motif ini menyimpan harapan dan doa kepada Tuhan agar nantinya anak yang dinikahkan memiliki kedudukan atau pangkat yang tinggi.
  2. Motif Wirasat. Motif Wirasat mengandung makna bahwa orangtua akan selalu memberi nasehat serta menuntun anak-anak mereka dalam menjalani kehidupan berumah tangga.
  3. Motif Truntum. Motif ini memuat filosofi bahwa orangtua akan selalu menuntun mempelai pengantin dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan selama menjalankan kehidupan berumah tangga.

BatikSolo.ID 08118605394 menyediakan aneka motif batik pernikahan dengan harga terbaik.

 

Sejarah Batik Solo

sejarah batik solo

Sejarah Batik Solo dimulai pecahnya kerajaan Jawa ini menjadi tiga bagian, menurut perjanjian Giyanti tahun 1755 kerajaan Mataram dibagi menjadi dua yang Kasunanan yang berkedudukan di Surakarta serta Kesultanan yang ada di Yogyakarta. Namun adanya pemberontakan dari Raden Mas Said membuat wilayah kekuasaan Kraton Surakarta menjadi menyempit. Pemecahan wilayah ini disebutkan dalam perjanjian Salatiga tahun 1757. Menurut perjanjian Salatiga penguasa Mangkunegaran berhak menyandang gelar pangeran, namun tidak berhak menyandang gelar sunan. Pura Mangkunegaran sebenarnya tidaklah tepat dikatakan sebagai keraton. Pura Mangkunegaran adalah sebuah pura kediaman pangeran karena disana tidak dijumpai tahta untuk raja sebagaimana yang ada di keraton Kasunan.

Dari sinilah sejarah batik Solo dimulai, meskipun sama-sama mendiami tanah Solo, keduanya tetap memiliki ciri khas masing-masing. Begitu pula halnya dalam karya batik. Batik Solo terkenal dengan warnanya yang cenderung gelap, dominan hitam, coklat, atau krem. Sedangkan dari segi motif, batik Solo punya ciri khas motifnya yang berbentuk geometris serta ukurannya yang kecil-kecil. Dari segi warna, keduanya tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Mangkunegaran tetap menerapkan warna coklat sogan dalam batik-batiknya hanya saja batik Mangkunegaran cenderung coklat kekuningan. Bila ditinjau dari segi kekayaan motif, batik milik Pura Mangkunegaran lebih punya banyak kreasi modifikasi dibanding batik Keraton Kasunanan.

Beberapa hasil kreasi seniman Mangkunegaran antaralain adalah Buketan (rangkaian bunga) Pakis, Sapanti Nata, Wahyu Tumurun, Parang Kesit Barong, Parang Sondhen, Parang Klithik Glebag Seruni, Liris Cemeng, serta Buketan paris. Motif batik Mangkunegaran mengesankan keluwesan dibandingkan batik Keratonan yang masih mempertahankan motif-motif pakem untuk ageman (pakaian) keluarga kerajaan. Motif-motif batik yang mencirikan batik Keratonan antara lain motif Parang, Kawung, Truntum, Sawat, Sidomukti, Satrio Manah, dan Semen Rante. Diantara motif batik yang dimiliki oleh keraton Solo, ada beberapa motif yang terlarang digunakan untuk rakyat biasa. Yakni motif Parang, Udan Liris, dan Semen Agung.

Batik awalnya dibuat oleh putri kerajaan dan abdi dalem untuk keperluan kalangan istana, namun lambat laun kebutuhan untuk lingkup istana sendiri tidak tercukupi jika hanya mengandalkan hasil batikan dari putri istana atau abdi dalem saja. Sejak saat itu batik menjadi usaha rumahan abdi dalem yang tinggal tak jauh dari istana. Batik sungguh sangat cepat menjadi populer, sehingga batik yang awalnya hanya diproduksi untuk keperluan keluarga istana mulai dijadikan produk komoditi oleh para pembuat batik. Batik tidak hanya hasil dari sebuah kreasi yang bernilai seni tinggi, namun batik juga menjadi penanda status sosial masyarakat Jawa. Hal ini ditunjukkan oleh sejarah penciptaan batik untuk kalangan istana yang hanya dikerjakan pula di dalam tembok istana, juga pelarangan beberapa motif batik yang hanya diperuntukkan bagi raja, demikian sedikit artikel tentang sejarah batik Solo. BatikSolo.ID 08118605394 adalah toko batik online yang menyediakan aneka kebutuhan batik anda.

 

Batik Cap Kombinasi Tulis

batik cap kombinasi tulis

Batik cap kombinasi tulis, asal penamaan kedua jenis batik ini berasal dari metode pembuatannya. Seperti namanya, batik cap diciptakan dengan cara dicap atau distempel dengan canting khusus cap, sedangkan batik kombinasi adalah perpaduan antara batik tulis dengan batik cap. Proses pembuatan batik cap memiliki beberapa langkah yang sama dengan batik tulis, yang membedakan ialah pada batik cap kain distempel dengan canting cap. Canting ini dibuat dari tembaga dengan rata-rata berukuran 20cm x 20cm. Pertama, kain mori diletakkan pada bidang datar yang telah diberi alas yang empuk. Selanjutnya canting cap dicelupkan pada cairan malam panas yang sudah disiapkan dan dicapkan pada kain. Proses pewarnaan dan peluruhan malam sama seperti pada batik tulis. Hanya saja jika pada batik cap menghendaki warna lebih dari satu maka motif yang sudah ada ditimpa kembali dengan malam setelah proses pewarnaan pertama. Proses pembuatan motif baru pada batik cap lebih rumit dibanding pada batik tulis karena membutuhkan ketepatan memposisikan canting agar kesesuaian antarmotif terjaga. Warna kain batik cap cenderung lebih awet dibandingkan dengan jenis batik lainnya karena proses pewarnaannya yang berulang-ulang.

Pada batik cap kombinasi tulis metode pembuatannya tentu mengadopsi dari kedua teknik tulis dan cap. Teknik cap digunakan sebagai motif dasar sedangkan teknik tulis untuk melengkapi runga jeda antarmotif cap satu dengan yang lain. Motif untuk mengisi bagian yang kosong tersebut (isen-isen) dapat berupa titik-titik (cecek), bunga atau motif lainnya. Selanjutnya teknik pewarnaan serta peluruhan malam sama seperti pada teknik pembuatan batik lainnya.

Ada tips untuk membedakan ketiga jenis batik tersebut, ketiganya memiliki ciri masing-masing antara lain, batik tulis: bentuk ornamen atau motif dasar antar satu dengan yang lain tidak ada yang identik sama, hal ini disebabkan pengerjaannya yang manual. Sedangkan bentuk isen-isen cenderung lebih rapi. Batik cap: ornamen atau motif utama identik satu sama lain. Isen-isen cenderung tidak rapi karena pada proses pengecapan terdapat malam yang porsinya terlalu banyak (mbleber). Warna kain lebih mengkilap, serta warna dikedua sisi sama. Batik cap kombinasi tulis : motif dasar identik satu sama lain sedangkan isen-isen cenderung lebih rapi dibanding teknik cap karena pengerjaannya secara manual.

Dari segi harga tentu batik tulis menempati harga tertinggi dibamding jenis batik lainnya. Karena selain prosesnya yang panjang batik tulis merupakan hasil karya seni karena merepresentasikan kreasi pembuat pola motifnya. Apapun jenis kain batik yang menjadi pilihan, satu hal yang menjadi catatan penting. Batik seaungguhnya merujuk pada proses penciptaan serta filosofi yang terkandung ketika dikenakan bukan semata-mata selembat kain bermotif tradisional. Dengan mengenal wajah batik yang sesungguhnya semoga kita bisa lebih mencintai budaya kita. BatikSolo.ID 08118605394 merupakan toko Batik Solo online yang menyediakan kebutuhan batik anda dengan harga terbaik.

 

Mengenal Canting Batik Tulis Dan Bahan Pembuatan Batik

canting batik tulis

Canting Batik Tulis merupakan alat utama dalam tahapan  proses kreasi batik. Kenapa Canting Batik Tulis ? Karena alat membuat Batik Cap juga disebut Canting, untuk memudahkan selanjutnya dalam artikel ini Canting Batik Tulis hanya disebut sebagai Canting. Beberapa hal tentang Canting yang bisa menambah pengetahuan dibidang per batik an ini,

Canting sendiri sudah familiar di masyarakat sebagai alat untuk menorehkan malam pada kain mori yang sudah berpola, namun pemahaman masyarakat hanya sampai disitu saja. Secara anatomi, canting memiliki tiga bagian. Bagian paling depan berbentuk lubang kecil tempat keluarnya malam disebut cucuk, bagian untuk menampung malam panas bernama nyamplung, dan gagang berfungsi sebagai pegangan. Cucuk dan nyamplung terbuat dari tembaga sedangkan bagian gagang terbuat dari kayu atau bambu. Canting ternyata memiliki banyak jenis dengan fungsi yang berbeda-beda. Jenis-jenis canting beserta fungsinya sebagai berikut:

  1. Canting Rengreng, untuk membuat pola motif dasar pada batik.
  2. Canting Isen, fungsinya untuk membuat pola isen-isen pada batik. Canting isen ada yang bercucuk tunggal ada pula yang bercucuk banyak.
  3. Canting Cecekan, canting ini berfungsi untuk membuat isen berupa titik atau garis lengkung.
  4. Canting Loron, canting ini memiliki cucuk ganda. Fungsinya sebagai pembuat garis rangkap pada motif batik.
  5. Canting Telon, canting ini memiliki bentuk cucuk berupa segitiga. Fungsi dari canting ini ialah untuk membuat isen dengan bentuk segitiga.
  6. Canting Prapatan, canting isen untuk membuat pola segiempat.
  7. Canting Liman, canting untuk isen dengan bentuk segiempat namun terdapat titik ditengah bentuk segiempat tersebut.
  8. Canting Renteng, canting ini memiliki cucuk berjejer yang biasanya berjumlah genap. Canting jenis ini berfungsi untuk membiat pola garis rangkap sekaligus untuk mendapatkan jarak yang sama antar garis.
  9. Canting Byok, canting byok berfungsi membuat motif lingkaran berupa titik-titik. Biasanya jumlah titik pada canting ini berjumlah ganjil.
  10. Selain jenis-jenis canting tradisional, seiring perkembangan teknologi kini telah ditemukan canting elektrik. Canting ini lebih efisien dalam penggunaannya karena dapat menghemat malam serta hasil goresan bisa langsung menembus bagian sisi lain kain. Bentuk cucuk juga dapat disesuaikan dengan keperluan.

Untuk Bahan bahan pembuatan batik sendiri secara garis besar terdiri dari :

  1. Malam atau lilin. Malam digunakan untuk menutup bagian kain yang bermotif. Tujuannya agar saat proses pewarnaan bagian yang tertutup malam membentuk sesuai motif. Pada jaman dahulu malam atau lilin diperoleh dari sarang tawon, namun sekarang malam menggunakan bahan nabati seperti minyak kelapa atau getah pohon pinus. Terdapat tiga jenis malam, yakni 1) malam malam klowong, malam ini berfungsi untuk menutup pola dasar, 2) malam tembok, jenis malam untuk ngeblok bidang luas, 3) malam bironi, digunakan untuk menutup warna biru pada isen-isen.
  2. Kain Mori. Mori adalah jenis kain katun yang terbuat dari kapas. Semakin halus kain yang dipakai maka hasil batik semakin bagus. Panjang kain mori yang dipergunakan disesuaikan menurut tujuan pemakaian, untuk jarit (kain penutup) atau sebagai baju.
  3. Pewarna kain batik. Teknik pewarnaan batik dengan cara tradisional masih mempertahankan penggunaan bahan-bahan alami seperti secang, akar mengkudu, atau kunyit, namun seiring perkembangan jaman sekarang pewarnaan batik juga menggunakan bahan sintetis. Alasannya untuk efisiensi waktu dan budget. Pewarna alami harganya lebih mahal dibanding pewarna sintetis, maka pengusaha batik lebih memilih penggunaan pewarna sintetis untuk produksi massal.

BatikSolo.ID 08118605394 merupakan toko batik online spesialis Batik Solo, aneka jenis dan kualitas batik bisa didapatkan disini.

 

 

Batik Solo Motif Dan Maknanya

batik solo

Batik Solo merupakan salah satu produk Solo yang terkenal sehingga kota ini sering disebut juga dengan kota Batik. Batik sendiri telah menjadi salah satu ikon wisata solo  dan menjadi salah satu andalan tujuan wisatawan yang berkunjung ke Solo. Sentra batik Solo ini berpusat di kampung batik Laweyan dan Kampung batik Kauman. Produksi batik Solo sendiri sudah di ekspor sampai ke mancanegara. Dari dulu sampai sekarang membatik telah menjadi mata pencaharian utama sebagian masyarakat di Solo dan memiliki sejarah panjang sejak jaman kerajaan mataram berjaya.

Meski batik tulis dan batik cap pernah tergusur oleh batik sablon namun karena kualitasnya batik tulis dan batik cap tetap menjadi pilihan bagi pecinta batik. Batik Solo terkenal dengan corak tradisional yang digunakan pada batik cap maupun batik tulis. Bahan yang digunakan pada batik Solo ini menggunakan bahan lokal. Untuk mewarnai batik sendiri digunakan Soga Jawa.

Solo sendiri memiliki berbagai macam motif batik yang setiap motifnya memiliki makna tertentu. Motif batik yang terkenal di Solo adalah motif Sidoluruh dan Sidomukti. Sekilas tentang beberapa motif batik Solo beserta maknanya.

  • Parang Rusak Barong, Kawung dan Sawat, motif ini dianggap sakral dan hanya dipakai oleh raja dan keluarrganya.
  • Slobog atau besar, motif batik ini biasanya dipakai ketika melayat. Batik motif Slobog ini bermakna agar orang yang telah meninggal diterima arwahnya sehingga mendapat tempat yang baik disisi Tuhan Yang Maha Esa dan juga diterima amal baiknya semasa hidup.
  • Sidomukti, batik motif ini biasanya digunakan saat acara pernikahan. Jenis motif ini berkaitan dengan pengantin, secara bahasa sido artinya terus menerus dan mukti artinya berkecukupan. Sido mukti sendiri memiliki makna kehidupan orang yang memakainya akan berlimpahan rezeki yang berkecukupan dan bahagia sepanjang hidupnya.
  • Truntum, motif ini juga berhubungan dengan pernikahan. Namun motif ini biasa digunakan oleh orang tua dari si pengantin. Truntum berarti menuntun yang maknanya orang tua dari si pengantin akan selalu menuntun anak-anaknya menuju jalan kehidupan yang lurus.
  • Satrio Manah, motif ini biasa digunakan mempelai pria saat acara lamaran, diharapkan ketika lamaran memakai batik ini lamarannya akan diterima.
  • Semen Rante, kalau batik Satrio Manah digunakan mempelai wanita maka Semen Rante ini digunakan oleh mempelai wanita dengan walinya. Diharapkan dengan memakai motif ini wali dari mempelai perempuan mengharapkan ikatan yang kokoh antara pria dan wanita serta terciptanya hubungan yang harmonis.
  • Pamiluto, motif ini yang biasa dipakai oleh ibu dari mempelai wanita ketika prosesi tukar cincin dengan harapan kisah hidup kedua pasangan kelak serupa dengan kisah Mimin Ian Minuto.
  • Parangkusumo, artinya bunga mekar. Motif ini menggambarkan bunga yang sedang mekar seperti pasangan yang telah siap untuk menikah.
  • Ceplok Kasatriyan, motif yang dipakai saat prosesi kirab pengantin.
  • Semen Gedong, motif yang dipakai pengantin saat selesai serangkai upacara adat pernikahan.
  • Bondet, motif ini digunakan ketika pengantin wanita saat menghadapi malam pertama.

Ber wisata di Solo tidak akan lengkap bila anda tidak berbelanja batik, selain kampung batik, kita bisa mengunjungi pusat batik yang ada di Solo, seperti Pasar Klewer, Pusat Grosir, Solo atau anda bisa mengunjungi situs belanja batik Solo terkemuka BatikSolo.Id  08118605394 aneka motif batik dengan  berbagai kualitas disini.

 

Teknik Pembuatan Batik Jumputan

batik jumputan

Salah satu teknik membuat batik adalah Jumputan, Jumputan berasal dari bahasa Jawa yang artinya mengambil atau menjumput dengan ujung jari tangan. Teknik ini amatlah berbeda dengan pembuatan batik cap ataupun tulis yang memanfaatkan media lilin panas yang menghalangi warna pada proses pencelupannya, pada Batik  Jumputan penghalangan warna ini menggunakan karet, tali ataupun benang jahit. Tidak ada motif yang dianut dalam proses pembuatan batik jumputan ini, berbeda dengan proses pembuatan batik tulis dimana ada makna, filosofi dan corak yang bisa didefinisikan.  Teknik jumputan ini tidak berasal dari Indonesia, konon berasal dari India dan dibawa ke Indonesia oleh para pedagang dari Tiongkok dan banyak berkembang di Solo, Yogya, Pekalongan dan Palembang.

Secara sederhana pembuatan Batik Jumputan ini, menggunakan kelereng atau bijian bijian yang diikat pada kain mori putih, ikatan yang digunakan karet, tali atau dijahit dengan benang. Pada permukaan kain mori akan timbul tonjolan tonjolan atau mrentul dalam bahasa Jawa. Dalam 1 m2 kain mori diperlukan 25 butir kelereng. Kemudian langsung dilanjutkan dengan proses pencelupan warna, pencelupan nya sendiri tergantung dari kedalaman warna yang diinginkan. Setelah diangkat dari pewarnaan, kain akan di tiriskan sampai air kering. Setelah proses pengeringan selesai ikatan bisa langsung dibuka, hasil ikatan ikatan yang tidak terpapar warna ini akan menghasilkan bentuk bentuk unik dan bila memerlukan warna lain proses pencelupan bisa diulang dengan dan melakukan ikatan lagi.

BatikSolo.ID 08118605394 meenyediakan aneka batik Jumputan khas Solo dan melayani pengiriman batik ke seluruh Indonesia

Motif Batik Sido, Cinta Kasih Pada Sehelai Batik

motif batik sido

Motif Batik  Sido Surakarta yang diawali dengan kalimat “sido” mempunyai makna suatu pengharapan, kemudian bila dirangkai dengan kata selanjutnya maka akan bermakna suatu pengharapan tertentu. Seperti contohnya motif batik Sidomukti, ‘mukti’ artinya kesejahteraan. Dengan begitu motif batik Sidomukti mempunyai makna pengharapan untuk kehidupan yang sejahtera. Demikian halnya dengan motif batik lain yang diawali kata ‘sido’, maka mengantung suatu doa. Pada pembahaan kali ini akan membicarakan tentang motif Sidoasih. ‘Sido’ bermakna harapan, sedangkan ‘asih’ bermakna cinta kasih. Karena mengandung filosofi pengharapan bagi kehidupan baru yang lebih bahagia dan sejahtera maka batik-batik dengan awalan ‘sido’ dipakai dalam rangkaian prosesi pernikahan adat Jawa.

Dari segi tipe bentuk motifnya, jika diperhatikan dengan seksama motif-motif batik yang berawalan kata ‘sido’ memiliki kecenderungan berupa bentuk geometris. Pada masyarakat kebanyakan pasti akan mengira bahwa motif-motif tersebut merupakan variasi, padahal dari segi bentuk karakter yang mewaliki filosofi setiap motif berbeda satu sama lain buakn hanya sekedar variasi dalam pewarnaan atau gambar ornamen semata. Pada motif Sidoasih ciri yang paling menonjol dibandingkan dengan motif ‘sido’ yang lain yakni merupakan perpaduan antara Sidomulyo yang berlatar putih dan Sidomukti yang berlatar coklat kekuningan. Pada Sidoasih kedua motif tersebut dipadukan berselang-seling.

Batik-batik dengan motif berawalan ‘sido’ ini biasa digunakan dalam acara pernikahan adat Jawa karema filosofinya yang memuat harapan untuk kebaikan dalam kehidupan. Motif Sidoasih biasanya dipakai oleh kedua mempelai pengantin ketika malam pengantin. Harapannya dengan memakai motif Sidoasih pengantin berdua akan selalu diliputi rasa cinta kasih dalam menjalankan kehidupan berumahtangga. Karena motif ini masih secara luas dipakai oleh masyarakat untuk kepentingan pernikahan, maka batik dengan motif-motif ‘sido’ termasuk Sidoasih diproduksi oleh produsen batik atau sanggar-sanggar batik secara massal.

Meskipun kini penggunaan kain batik sudah lazim dipakai dalam berbagai acara, namun lebih bijaksana bila kita tahu makna atau filosofi dibalik setiap motifnya. Hal ini merupakan salah satu cara untuk melestarikan dan memahami kebudayaan Jawa serta motif batik sido pada khusunya. Apabila anda butuh panduan berkeliling Solo, kami merekomendasikan web Wisata Solo sebagai acuannya. BatikSolo.ID 08118605394 menyediakan aneka jenis kain batik Solo dengan beragam kualitas dengan harga bersahabat.

Motif Klasik Batik Solo Beserta Asal Usulnya

motif klasik batik solo

Motif  Klasik batik Solo yang populer hingga saat ini, baik itu untuk pakaian pada prosesi pernikahan atau hanya untuk pemakaian sehari-hari kebanyakan dari desain motif batik “sido” karena fiosofinya yang memuat pengharapan untuk kehidupan yang sejahtera dan bahagia. Beberapa motif batik yang kurang populer ternyata salah satu diantaranya ialah merupakan motif batik tertua yang ada di Nusantara, berikut beberapa penjelasan motif batik Surakarta beserta asal-usulnya.

  1. Motif Gringsing.

Motif batik Gringsing membentuk pola yang menyerupai sisik ikan. Gringsing adalah salah satu motif batik tertua. Ilmuan asal Belanda Rouffaer menyatakan bahwa gringsing sudah disebutkan pada sekitar kurun waktu abad ke-12 di Kerajaan Kediri, Jawa Timur. Gringsing biasanya dipakai sebagai motif dasar, ornamen utamanya ada yang berupa buketan, atau pola bunga dengan isen-isen berupa cecek. Gringsing klasik biasanya berwarna biru indigo atau merah kesumba karena masih menggunakan teknik pewarnaan menggunakan bahan-bahan alami. Filosofi batik Gringsing adalah sebagai simbol keseimbangan, kemakmuran, dan kesuburan.

  1. Motif Nitik/Jlamprang.

Motif klasik batik Solo,Jlamprang sesungguhnya adalah salah satu motif batik pesisir (Pekalongan), di Yogja dan Surakarta, motif serupa dinamakan motif nitik. Nitik berasal dari kata “tik” yang berarti tetesan. Akar kata ini juga mempunyai padanan makna dengan “tik” pada kata batik, sehingga para ilmuan menyatakan bahwa motif ini adalah motif yang paling kuno diantara yang lain. Di Solo, motif batik ini memeang kurang populer, namun di Pekalongan, motif Jlamprang sangat populer, produksi batik ini berada di daerah Krapyak, Pekalongan. Motif nitik/jlamprang merupakan pengembangan dari motif patola. Patola adalah pola kain tenun yang bermotif geometris, karena terinspirasi dari kain tenunan, maka motif nitik/jlamprang berbwntuk pola segiempat yang menyerupai anyaman. Patola di Jawa lebih familiar disebut dengan kain cinde. Batik Jlamprang lebih berkembang di daerah pesisir, hingga saat inj, jlamprang masih digunakan pada acara-acara adat di Pekalongan. Motif cakar yang terdapat pada nitik/jlamprang dipercaya terisnpirasi oleh bentuk cakra, senjata Dewa Wisnu yang menyerupai roda. Karena motif jlamprang/nitik digunakan dalam kegiatan ritual, maka filosofi yang terkandung didalamnya ialah sebagai perlambang kehidupan, penyambung antara dunia manusia dengan pencipta.

  1. Motif Sekar Jagad

Motif Sekar Jagad termasuk dalam kategori pola tambal. Motif tambal berbentuk geometris dengan detailnya berupa motif parang, ceplok atau truntum. Motif geometris tambal diantaranya ialah tambal kitiran dan tambal sripamiluta, motif yang paling populer ialah Kar Jagad (Sekar Jagad). Sekar Jagad tergolong motif tambal yang tidak geometris. Pola tambal pada Sekar Jagad sesungguhnya membentuk peta gambaran dunia. Kar berasal dari bahasa Belanda kaart yang berarti peta. Sering kali, kata kar ini membingungkan karena mirip dengan sekar dalam bahasa Jawa yang berarti bunga. Karena hal itulah motif Kar Jagad menjadi Sekar Jagad, perubahan penyebutan ini mengakibatkan perubahan makna. Sekar Jagad diartikan menjadi bunga alam semesta. Pemaknaan ini tidak benar karena motid Kar Jagad sesungguhnya menggambarkan peta dunia.

  1. Ceplok Kasatriyan.

Pola ceplok atau ceplokan secara umum termasuk kategori pola geometris berupa persegiempat, lingkaran atau bintang. Pada dasarnya ceplok merupakan pola geometris dengan ornamen abstrak atau unsur kehidupan beruoa tumbuh-tumbuhan atau binatang. Filosofi motif batik ceplok kasatrian agar pemakainya terlihat gagah seperti seorang kesatria. Kain ini dipakai untuk kirab pengantin.

Masih banyak lagi berbagai motif klasik batik Solo yang hingga saat ini masih bertahan,meskipun sudah banyak juga dikombinasikan dengan motif lain. Untuk mendapatkan aneka jenis batik ini njenengan bisa mendapatkan secara online dari web batik solo 08118605394 aneka batik Solo berkualitas.