Mengenal Pewarna Alami Batik

pewarna alami batik

Sebelum teknologi pembuatan batik sudah berkembang seperti sekarang, proses penciptaan batik jaman dulu menggunakan pewarna alami batik. Warna-warna alami tersebut didapat dari bahan nabati yang mudah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa bahan yang digunakan untuk pewarna alami batik antara lain:

  1. Daun Teh. Bagian daun teh yang digunakan ialah daun yang sudah tua. Daun yang sudah tua menghasilkan warna cokelat pada kain.
  2. Alpukat. Bagian tanaman yang digunakan adalah daunnya. Daun alpukat diolah untuk mendapatkan warna hijau kecoklatan.
  3. Daun Jati. Daun jati selain populer sebagai pewarna masakan gudeg, ternyata juga digunakan untuk mewarnai batik. Daun pohon jati menghasilkan warna merah kecoklatan.
  4. Tarum. Tarum termasuk tanaman polong-polongan, tanaman ini menghasilkan warna biru pada kain batik.
  5. Mangga. Bagian yang digunakan pada tanaman ini adalah daun serta kulit pohonnya. Kulit serta daun mangga akan menghasilkan warna hijau.
  6. Mengkudu. Mengkudu atau nama lainnya adalah pace diambil akarnya untuk pewarnaan. Akar mengkudu menghasilkan warna merah.
  7. Daun Andong. Selain mangga, tanaman andong juga menghasilkan warna hijau pada kain batik. Andong adalah jenis tanaman hias yang mudah dijumpai. Daunnya berwarna hijau atau merah kecoklatan.
  8. Kelapa. Untuk bahan pewarna batik, bagian yang digunakan dari tanaman ini adalah sabutnya. Sabut kelapa yang diolah menghasilka warna krem atau coklat muda.
  9. Putri Malu. Tanaman liar yang punya ciri khas menguncup bila disentuh ini ternyata juga menjadi bahan pewarna batik. Bagian tanaman yang dipakai adalah bunga dan daunnya. Daun dan bunga putri malu menghasilkan warna kuning kehijauan.
  10. Secang. Secang adalah sejenis tanaman yang termasuk dalam keluarga polong-polongan. Bagian tanaman yang diambilnadalah kulit kayunya. Secang memang memiliki ciri khas warna merahnya yang keluar bila diaeduh dengan air. Warna merah inilah yang dimanfaatkan dalam proses pewarnaan batik.
  11. Kunyit. Kunyit sudah terkenal sebagai bahan yang serba guna. Di masyarakat Jawa, kunyit tak hanya jadi bahan baku jamu, tapi juga digunakan dalam masakan, atau ritual perawatan tubuh putri raja jaman dulu. Warna kuningnya yang khas juga dimanfaatkan untuk bahan pewarna batik.
  12. Bawang merah. Tanaman ini ternyata tak hanya digunakan sebagai bumbu dalam masakan, tetapi juga dapat digunakan dalam proses mewarnai kain batik. Warna yang dihasilkan dari bawang merah adalah jingga kecoklatan yang khas.

Beberapa diantara pewarna alami batik sesungguhnya sangat familiar dalam kehidupan kita sehari-hari. Kain batik yang dihasilkan dari proses pewarnaan alami ini memang lebih mahal karena prosesnya yang lebih panjang dibanding jika menggunakan pewarna sintetis yang lebih instan. Meskipun begitu pewarnaan alami menggunakan bahan-bahan tersebut menghasilkan gradasi yang unik karena setiap komponen unsur dalam bahan-bahan tersebut menghasilkan warna yang tidak seragam. Toko Batik online BatikSolo.ID menyediakan aneka batik dengan harga terbaik

Sejarah Hari Batik Nasional

hari batik

Berawal dari masuknya batik dalam Daftar Perwakilan Warisan Budaya Tak-benda UNESCO, semenjak itu akhirnya diinisiasi adanya perayaan Hari Batik Nasional. Pada 2 Oktober 2009, acara tersebut juga tidak hanya mewariskan batik sebagai Warisan Budaya Indonesia, namun juga wayang, keris, noken, dan tari saman. Akhirnya setiap tanggal 2 Oktober diselenggarakan perayaan Hari Batik Nasional, atas adanya pengakuan dari UNESCO. Alasan UNESCO mengakui batik dikarenakan UNESCO menilai jika batik Indonesia memiliki banyak simbol yang berkaitan erat dengan status sosial, kebudayaan lokal, alam, dan sejarah itu sendiri.

Sejarah pembatikan sendiri, di Indonesia sudah mulai sejak masa kerajaan Majapahit. Buktinya ditemukan pada sisa-sisa peninggalan batik yang ada di wilayah Mojokerto dan Bonorowo (sekarang Tulungagung) yang mana wilayah tersebut merupakan bekas wilayah kerajaan Majapahit. Kemudian pengembangannya dilanjutkan pada masa kerajaan Mataram, lalu ke kerajaan Solo dan Yogyakarta. Namun, memang pada masa itu kerajinan batik hanya dapat digunakan oleh kaum bangsawan atau priyayi dan tidak untuk masyarakat biasa. Pada sekitar akhir abad 18 dan awal abad 19, batik mulai dikenal oleh masyarakat luar keraton. Kini batik sudah tidak lagi menjadi simbol dari status sosial, seiring dengan berkembangnya zaman batik mulai digunakan oleh banyak masyarakat biasa dari kelas sosial manapun.

Dengan adanya ragam jenis batik yang berada di Indonesia, terdapat satu jenis batik yang cukup unik persebarannya yakni Batik Tiga Negeri (BTN). Batik ini sesuai dengan namanya dibuat di tiga negeri atau daerah, yakni Lasem, Solo, dan Pekalongan. Harga untuk jenis batik yang satu ini tergolong cukup mahal karena proses pengerjaannya yang lama dan rumit, tapi nilai seni nya tidak usah dipertanyakan lagi. Produksi untuk batik jenis ini masing berlangsung, namun memang prosesnya terbatas dan melemah.

Kini perayaan hari batik diselenggarakan disetiap ekosistem kehidupan manusia. Mulai dari sektor ekonomi hingga politik. Yang menyenangkan dari hari batik nasional juga adalah dengan munculnya sejumlah gerai makanan, minuman, tempat wisata, dan perusahaan yang ramai-ramai memberikan diskon bagi para pelanggannya dengan syarat utama menggunakan baju batik. Hal ini menjadi bentuk bahwa batik masih menjadi sesuatu yang diperhitungkan kehadirannya oleh masyarakat Indonesia, sehingga harus dirayakan.

BatikSolo.ID 08118605394 menyediakan aneka kain Batik Solo secara online dengan harga terbaik.

Perbedaan Motif Batik Keraton Solo Dan Pura Mangkunegaran

batik keraton solo

Perbedaan Motif Batik Keraton Solo Dan Pura Mangkunegaran Solo dimulai dari perjanjian Giyanti tahun 1755 kerajaan Mataram dibagi menjadi dua yang Kasunanan yang berkedudukan di Surakarta serta Kesultanan yang ada di Yogyakarta. Namun adanya pemberontakan dari Raden Mas Said membuat wilayah kekuasaan Kraton Surakarta menjadi menyempit. Pemecahan wilayah ini disebutkan dalam perjanjian Salatiga tahun 1757. Menurut perjanjian Salatiga penguasa Mangkunegaran berhak menyandang gelar pangeran, namun tidak berhak menyandang gelar sunan. Pura Mangkunegaran sebenarnya tidaklah tepat dikatakan sebagai keraton. Pura Mangkunegaran adalah sebuah pura kediaman pangeran karena disana tidak dijumpai tahta untuk raja sebagaimana yang ada di keraton Kasunan.

Meskipun sama-sama mendiami tanah Solo, keduanya tetap memiliki ciri khas masing-masing. Begitu pula halnya dalam karya batik. Batik Keraton Solo terkenal dengan warnanya yang cenderung gelap, dominan hitam, coklat, atau krem. Sedangkan dari segi motif, batik Solo punya ciri khas motifnya yang berbentuk geometris serta ukurannya yang kecil-kecil. Dari segi warna, keduanya tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Mangkunegaran tetap menerapkan warna coklat sogan dalam batik-batiknya hanya saja batik Mangkunegaran cenderung coklat kekuningan. Bila ditinjau dari segi kekayaan motif, batik milik Pura Mangkunegaran lebih punya banyak kreasi modifikasi dibanding batik Keraton Kasunanan.

Benerapa hasil kreasi seniman Mangkunegaran antaralain adalah Buketan (rangkaian bunga) Pakis, Sapanti Nata, Wahyu Tumurun, Parang Kesit Barong, Parang Sondhen, Parang Klithik Glebag Seruni, Liris Cemeng, serta Buketan paris. Motif batik Mangkunegaran mengesankan keluwesan dibandingkan batik Keratonan yang masih mempertahankan motif-motif pakem untuk ageman (pakaian) keluarga kerajaan. Motif-motif batik yang mencirikan batik Keraton Solo antara lain motif Parang, Kawung, Truntum, Sawat, Sidomukti, Satrio Manah, dan Semen Rante. Diantara motif batik yang dimiliki oleh keraton Solo, ada beberapa motif yang terlarang digunakan untuk rakyat biasa. Yakni motif Parang, Udan Liris, dan Semen Agung.

Batik awalnya dibuat oleh putri kerajaan dan abdi dalem untuk keperluan kalangan istana, namun lambat laun kebutuhan untuk lingkup istana sendiri tidak tercukupi jika hanya mengandalkan hasil batikan dari putri istana atau abdi dalem saja. Sejak saat itu batik menjadi usaha rumahan abdi dalem yang tinggal tak jauh dari istana. Batik sungguh sangat cepat menjadi populer, sehingga batik yang awalnya hanya diproduksi untuk keperluan keluarga istana mulai dijadikan produk komoditi oleh para pembuat batik. Batik tidak hanya hasil dari sebuah kreasi yang bernilai seni tinggi, namun batik juga menjadi penanda status sosial masyarakat Jawa. Hal ini ditunjukkan oleh sejarah penciptaan batik untuk kalangan istana yang hanya dikerjakan pula di dalam tembok istana, juga pelarangan beberapa motif batik yang hanya diperuntukkan bagi raja. BatikSolo.ID 08118605394 adalah toko Batik online yang menyediakan aneka kebutuhan batik anda. 

 

Batik Pada Prosesi Adat Jawa Siraman

siramanan

Batik, bagi masyarakat Jawa bukan hanya sekadar sandangan yang setiap hari dipakai dalam keseharian mereka, namun batik merupakan salah satu cara bagi orang Jawa memaknai kehidupan dalam setiap sendi kehidupan sebagai sebuah harapan. Batik senantiasa dipakai oleh masyarakat Jawa dalam semua fase kehidupan, dari lahir, siraman, pernikahan, kelahiran hingga menemui ajal. Pada jaman dahulu, batik sebagai simbol status sosial seseorang. Motif-motif tertentu hanya boleh dikenakan oleh lingkungan istana dan terlarang umtuk rakyat jelata. Namun ketika istana mengijinkan prosesi pernikahan adat dikenakan dalam pesta rakyat biasa, batik menjadi lebih fleksibel.

Orang Jawa selalu memiliki cara sendiri untuk memaknai setiap fase yang dilakoninya. Seperti pada prosesi pernikahan, setiap harapan dan doa terwujud dalam kain batik yang dipakai oleh calon mempelai pengantin. Adapun prosesi pernikahan adat jawa gaya Surakarta diawali dengan acara siraman. Acara siraman diadakan dihari yang sama prosesi midodareni diadakan. Tujuan dari prosesi ini ialah mensucikan raga dan jiwa calon pengantin untuk menjelang kehidupan baru.

Setiap ubo rampe atau perlengkapan siraman mengandung filosofis masing-masing. Seperti pada saat menyiramkan air ke tubuh calon mempelai hanya boleh dilakukan oleh orangtua atau pinisepuh. Jumlah ada tujuh orang, jumlah ini melambangkan pertolongan. Pitu berarti bilangan tujuh difilosofikan sebagai pitulungan (pertolongan). Kain batik yang dipakai calon mempelai juga mengandung harapan tertentu. Motif-motif batik yang dipakai saat upacara siraman antara lain:

  1. Motif Grompol (gambar diatas). Kain batik motif grompol dipakai oleh ibu dari calon mempelai perempuan. Grompol berarti berkumpul atau bersatu. Diharapkan dengan memakai motif ini berkumpulnya segala kebaikan seperti kelancaran rejeki, keturunan, serta kebahagiaan hidup.
  2. Motif Cakar. Motif cakar melambangkan agar setelah berumahtangga hingga keturunannya nanti dapat penghidupan yang baik dan hidup mandiri.
  3. Motif Nitik. Motif ini memiliki filosofi bijaksana. Orang yang memakainya diharapkan menjafi sosok yang bijaksana.
  4. Motif Naga Gini. Motif Naga Gini memiliki filosofi sang calon pengantin akan senantiasa mendapatkan kebarokahan.
  5. Motif Naga Sari. Motif ini mewakili harapan akan datangnya kesuburan dan kemakmuran.

Setiap prosesi adat jawa hasil tirakat dan renungan para leluhur sesungguhnya memiliki makna yang baik. Hanya saja karena alasan keprakstisan, masyarakat modern memilih untuk tidak menjalankan prosesi-prosesi tersebut.  BatikSolo.ID 08118605394 menyediakan aneka batik untuk proses siraman dan berbagai upacara adat lainnya.

 

Batik Indramayu Pesona Batik Nusantara

batik indramayu

Batik Indramayu merupakan bagian Batik Nusantara dengan polanya tersendiri. Dengan latar belakang kehidupan petani dan nelayan di wilayah setempat, menjadikan Batik Indramayu banyak mengambil tema dari alam di sekitarnya untuk kemudian dituangkan menjadi bentuk motif batik di atas kain. Motif batiknya sendiri banyak mengilustrasikan tentang tumbuhan dan hewan khas daerah pesisir. Dengan ciri khas gambar-gambar seperti ikan, udang, bunga, daun, akar, dan beragam jenis burung. Bentuk-bentuk tersebut muncul dari letak geografis, sifat, kepercayaan, adat istiadat, dan tata kehidupan daerah tersebut.

Batik indramayu menonjolkan unsur pokok yang lebih ditentukan oleh warna, bidang, kombinasi, garis dan titik, serta tekstur dalam karya-karyanya. Kemudian unsur-unsur tersebut disusun kembali sehingga membentuk pola tertentu, dan berhasil menciptakan keindahan secara utuh dan harmonis. Teknik pembuatan batik indramayu pun seiring berkembangnya zaman menjadi lebih bebas dalam menciptakan gaya, tidak memiliki ikatan, corak abstraknya pun dilakukan dengan menggunakan canting dan kuas dan warna yang sangat beraneka ragam. Untuk proses pewarnaanya sendiri menggunakan Teknik mencelup dan mencolet.

Motif batik indramayu sendiri sudah mengalami banyak perubahan dari segi desain, fungsi, pewarnaan, dan motif batik itu sendiri. Hal tersebut dikarenakan perkembangan zaman dan pengaruh-pengaruh dari sisi kehidupan manusia yang selalu menginginkan hal baru. Dalam batik indramayu, para pengrajin merasa bahwa membatik itu selayaknya melukis tanpa maksud tertentu, sehingga tidak terdapat banyak makna simbolis pada motif-motif batiknya. Berikut ini berbagai macam motif batik indramayu:

  • Motif batik etong. Motif batik yang menggambarkan ragam satwa laut, seperti: ikan, udang, cumi, ubur-ubur, dan kepiting.
  • Motif batik kapal terdampar. Motif yang menyiratkan bahwa motif ini adalah kapal nelayan.
  • Motif batik ganggeng. Motif batik yang menggambarkan jenis rumput laut.
  • Motif batik kembang gunda. Motif batik berupa tumbuhan yang ada di daerah sekitar pantai utara jawa
  • Motif batik swastika. Motif batik yang terbentuk pada masa penjajahan jepang dan menggambarkan simbol kekerasan yang terjadi pada saat itu.
  • Motif batik merak ngibing. Motif batik yang menunjukan keindahan burung merak.
  • Motif batik kereta kencana. Motif batik yang menggambarkan Raja Wilarodra yang sedang beraktivitas di kandang kuda keraton.

BatikSolo.ID toko batik online yang menyediakan aneka batik berkualitas.

Batik Motif Geometris dan Non Geometris

batik motif geometris

Batik masa kini kaya akan ragam motif atau corak, apalagi semenjak ditemukannya sebuah aplikasi yang membantu desainer modern untuk mendesain motif batik yang akan menjadi busana yang mereka ciptakan. Terkadang mereka tidak terlalu memperhatikan falsafah yang dibawa pada setiap motif, namun hal itu bukan menjadi masalah besar karena permintaan pasar juga tidak selalu sepaham dengan falsafah batik, mereka cenderung hanya menilai batik dari segi keestetisan corak semata. Motif batik yang kaya dan corak yang beragam sesungguhnya merupakan hasil dari kombjnasi bentuk-bentuk yang berada di alam. Bila menurut pada pakem yang sudah ada, sebenarnya motif batik dapat digolongkan kedalam dua kategori yang paling dasar yaitu batik motif geometris dan motif batik non geometris.

Batik motif geometris adalah batik yang memiliki ornamen berbentuk geometri. Bentuk geometri diantaranya dapat berupa segiempat, segitiga, lingkaran, maupun belah ketupat. Ciri khas batik motif geometris adalah motifnya yang mudah dibagi menjadi perbagian yang disebut “raport”. Berdasarkan raportnya motif geometris dibedakan lagi menjadi dua, yakni raport dengan pola lingkaran/segiempat dan raport yang tersusun dengan pola garis miring. Contoh motif batik geometris raport segiempat/lingkarang adalah golongan ceplokan, banji, kawung, . Sedangkan contoh batik motif geometris raport garis miring ialah golongan parang dan udan riris. Oleh karena motifnya yang berupa bagun geometri yang simetris yang setiap raportnya identik, maka batik dengan motif ini sering dibuat dengan teknik batik cap.

Batik motif non geometris adalah motif dengan bentuk ornamen yang meniru objek-objek di alam, seperti tumbuhan, binatang, gunung, atau bisa juga berupa bangunan seperti candi. Tumbuhan yang dipakai untuk motif ini biasanya berupa bunga, tumbuhan bersulur, pohon hayat, sedangkan dari golongan binatang lebih banyak seperti naga, garuda, kijang, kupu-kupu, burung huk atau phoenix. Pada batik dengan motif non geometris, ornamen utama letaknya tersebar di seluruh kain yang akan dibatik dengan jarak yang relatif teratur, kemudian pada setiap jarak antara ornamen utama satu dengan lainnya terdapat ornamen pelengkap. Contohnya dapat kita jumpai pada motif truntum. Pada motif truntum, ornamen utamanya berupa gurdo atau sawat, sedangkan ornamen pelengkapnya adalah bunga berukuran kecil dengan jarak dan bentuk yang identik satu sama lain, lalu isen-isennya terdapat kombinasi antara cecek dan sawut. Contoh motif batik yang menggunakan pakem non geometris adalah golongan semen dan buketan.

Ornamen yang dipilih untuk menghias kain batik klasik tentunya tidaklah sembarangan, karena setiap objek mewakili filosofi tersendiri yang berkaitan dengan cara hidup orang Jawa. Pakem dalam pembuatan batik klasik masa kini tidak bersifat mengikat seperti ketika masa pemerintahan Mataram masih berlaku, perkembangan jaman mempermudah generasi muda membuat desain motif sesuai kreasi mereka. Bahkan beberapa waktu silam beberapa mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Semarang menciptakan motif batik dengan ornamennya meniru bentuk sel manusia. Tentunya filosofi yang ingin disuarakan ialah awal mula kehidupan manusia yang berawal dari komponen terkecil sebuah sel. Seni batik tak hanya wajahnya yang indah namun nilai pelajaran yang dibawanya juga memuat pesan keluhuran. BatikSolo.ID 08118605394 adalah toko batik online yang menyediakan aneka batik berkualitas

 

Batik Lokcan Batik Burung Phoenix

batik lokcan batik burung

Keberadaan pendatang etnis Tionghoa yang menetap dan bermukim menjadi pengusaha batik di wilayah pesisir Jawa membawa dampak yang besar terhadap corak khas batik-batik pesisiran. Ornamen-ornamen khas Cina yang sering ditemui pada batik pesisiran lazimnya berbentuk burung hong/phoenix, naga, dan ragam hias ukir yang ditemukan pada keramik-keramik Cina seperti mega mendung menjadi inspirasi pada pola-pola motif batik Lasem. Di Lasem, terdapat jenis batik pesisiran yang mendapat pengaruh budaya Tionghoa yaitu batik lokcan. Sebagian berpendapat batik lokcan identik dengan burung hong, yang berarti batik lokcan batik burung phoenix motifnya. Namun sebagian yang mengetahui sejarahnya berpendapat bahwa lokcan lebih mengacu pada material kain bahan batiknya bukan merujuk pada motifnya.

Lokcan, dalam bahasa Canton berarti sutra biru (lok=biru, can=sutra). Batik lokcan adalah jenis batik yang bahannya berasal dari sutra berwarna biru motifnya khas ornamen-ornamen yang identik dengan budaya etnis Cina. Batik lokcan kemudian berkembang menjadi batik eksklusif yang diminati oleh kalangan menegah keatas. Bahan kain sutra pilihan didatangkan langsung dari Cina. Namun pada retang waktu ketika pendudukan Jepang berlangsung, produksi batik lokcan mengalami kendala berarti. Kesulitan ekonomi yang dialami para saudagar batik ketika itu membuat impor kain sutra sebagai bahan dasar produksi batik lokcan terhenti. Para saudagar batik di wilayah pesisir pulau Jawa diharuskan memenuhi pesanan kain batik oleh Jepang, maka terciptalah batik hokokai.

Akibat pengaruh pendudukan Jepang dan krisis, tak hanya sutra saja yang sukit didapatkan, bahkan kain mori yang lazim dipakai untuk bahan dasar batik pun sangat sukit ditemui. Pada masa oendudukan Jepang itu produksi batik lokcan sebenarnya masih berlangsung, hanya saja bahan kainnya bukanlah berasal dari sutra cina melainkan diganti dengan kain mori. Meski demikian, batik yang tercipta dari kain mori pun tetap dijuluki batik lokcan karena masih mempertahankan ciri khas batik lokcan original pada batik serupa dengan perbedaan material kain.

Ciri khas batik lokcan  ialah ornamen utamanya berupa burung hong/phoenix. Pada setiap karya batik lokcan dengan variasi apapun, batik lokcan  batik burung phoenix selalu menjadi ornamen utama. Hal inilah yang menyebabkan morif burung hong sangat melekat oada batik lokcan. Burung hong pada batik lokcan melambangkan kebijaksanaan berdasarkan pada kepercayaan orang Cina. Hingga saat ini, batik lokcan masih dapat dijumpai pada sentra-sentra batik yang berada di wilayah pesisir Jawa.

Batiksolo.id 08118605394 adalah toko batik online yang menyediakan aneka batik berkualitas.

Sejarah Batik Cirebon

sejarah batik cirebon

Sejarah batik Cirebon sudah dimulai lama, bahkan jauh sebelum era Kemerdekaan. Cirebon juga merupakan pusat batik tertua yang memiliki andil terhadap ragam pola batik di pusat-pusat industri batik Jawa Barat lainnya. Seperti jenis batik yang lainnya, Batik Cirebon sendiri juga memiliki sejarah yang unik.

Menurut sejarah batik Cirebon dimulai dari Pelabuhan Muara Jati (yang kini disebut Cirebon) dijadikan sebagai tempat persinggahan para pedagang asing seperti dari Arab, Tiongkok, India, serta Persia. Dengan banyaknya pedagang yang bersinggah dan membawa budayanya, maka tergeraklah untuk membuat kebudayaan baru, salah satunya adalah Batik Cirebon.

Berbicara tentang perkembangan Batik Cirebon tidak akan bisa lepas dari Trusmi, yaitu suatu tempat di Cirebon yang sekarang menjadi sentra batik. Trusmi diawali oleh seorang pemuka agama Islam, bernama Ki Buyut Trusmi. Pada awalnya Ki Buyut Trusmi bersama dengan Sunan Gunung Jati, menyebarkan Agama Islam di kawasan desa Trusmi. Selain mengajarkan Agama Islam, mereka juga mengajari warga setempat keterampilan membatik. Dari kebiasaan mengajarkan keterampilan batik tersebut, maka desa Trusmi terus berkembang hingga kini menjadi pusat Batik Cirebon.

Hingga kini, Batik Cirebon dikenal akan pola berbentuk awan-awan menarik yang disebut sebagai pola Mega Mendung. Motif ini telah menjadi ikon batik pesisiran Cirebon. Pola Mega Mendung ini juga menjadi ciri khas karena pola ini tidak dapat ditemui lagi di penghasil batik pesisir lainnya di sisi utara Jawa. Selain unik dan menarik, pola Mega Mendung juga memiliki konsep dan arti yang kuat. Dalam faham Taoisme, awan merupakan lambang dunia atas. Bentuk awan merupakan gambaran dunia yang luas, bebas, dan memiliki makna ketuhanan. Konsep mengenai awan juga berpengaruh di dunia seni rupa Islam abad ke-16, yang dipakai oleh kaum Sufi untuk menggambarkan dunia besar atau alam bebas. Dari budaya-budaya tersebut, terjadilah asimilasi yang kemudian menghasilkan budaya batik yang baru, yaitu pola batik Mega Mendung.

Sejarah batik Cirebon tidak hanya terdiri dari satu pola Mega Mendung itu saja. Memang, yang paling dikenal oleh masyarakat luas dari Batik Cirebon sendiri adalah pola Mega Mendung tersebut, tetapi ada banyak lagi jenis pola batik khas Cirebon yang masih belum dipengaruhi oleh budaya luar Jawa, seperti batik Paksinaga Liman, Patran Keris, Singa Payung, Singa Barong, Banjar Balong, dan Ayam Alas. Terdapat juga pola yang unik karena didasari oleh sejarah yaitu Batik Kompeni, menggambarkan kondisi tanam paksa saat Indonesia masih dijajah oleh Belanda. Adanya variasi pola Batik Cirebon, dengan warna-warnanya yang berani dan menyala, membuat Batik Cirebon sangat unik dan berbeda dengan batik-batik umumnya seperti Batik Yogyakarta atau Surakarta. Keunikan tersebut yang menjadikan Batik Cirebon sebagai objek kebudayaan berharga yang perlu dijaga serta dilestarikan.

Batiksolo.ID 08118605394 adalah toko batik online yang menyediakan aneka jenis batik berkualitas.

Jenis Jenis Batik Nusantara Yang Populer

jenis batik nusantara

Ada beberapa jenis batik nusantara yang populer, meskipun kata Batik sendiri berasal dari bahasa jawa amba dan nitik, yang berarti menulis titik. Pada dasarnya menulis motif batik dimulai dengan membuat pola berupa titik-titik. Namun seiring berkembangnya waktu, motif batik pun kian beragam dan tidak lagi dilihat menjadi sesuatu yang kuno. Dengan jenis motif batik yang beragam, terdapat beberapa jenis motif yang tergolong cukup populer dikalangan masyarakat. Berikut ini  beberapa contoh jenis jenis  batik nusantara yang cukup populer dengan ragam alasannya:

Batik Mega Mendung

Berasal dari Cirebon, batik ini memiliki ciri khas motif dengan gambar awan yang berukuran besar dan warna yang sangat mencolok. Ragam warna yang sangat disukai dan banyak digunakan antara lain seperti merah tua, ungu, dan hijau tua.

Batik Tujuh Rupa Pekalongan

Motif batik dari kota ini terkenal dengan motifnya yang elegan. Didominasi oleh tumbuh-tumbuhan dan banyak dipengaruhi oleh budaya perdagangan antar bangsa sejak zaman dahulu menjadikan motif batik pekalongan sangat variatif. Ditambah dengan kombinasi batik yang menggunakan tujuh rupa aneka warna.

Batik Parang Rusak

Tidak hanya ditemukan dalam bentuk pakaian, batik ini juga muda ditemui pada jarik dan produk berbahan batik lainnya. Hal tersebut disebabkan oleh variasi motifnya  yang sangat populer di kalangan pecinta batik.

Batik Priyangan Tasikmalaya

Batik Priyangan ini dikenal dengan coraknya yang rapat, rapi, dan berkelas. Dengan dominasi motif rumput dan tumbuh-tumbuhan serta menggunakan warna-warna lembut menjadi ciri dari batik ini.

Batik Lasem

Ciri khasnya yang berupa warna merah menyala, banyak terpengaruh dari kebudayaan Cina pada masanya. Serta beberapa coraknya juga seperti corak tiga negri, latohan, dan krecak yang biasanya menjadi primadona,

Batik Bali

Varian batiknya yang menarik, menjadikan batik ini cukup diminati oleh  masyarakat. Karena dalam batik ini akan banyak ditemui ragam gambar jenis hewan seperti kura-kura, burung, bangau, dan rusa.

Batik Pring Sedapur Magetan

Didominasi dengan gambar-gambar bambu, batik ini seringkali dimaknai sebagai penggambaran dari hidup yang rukun dan tenteram. Karena meneladani karakter bambu yang berarti membuat diri sendiri bermanfaat bagi orang lain.

Batik Malang

Dengan warna-warna cerah dan kombinasi motif gambar-gambar candi di kota malang, menjadikan batik ini sangat unik dan istimewa. Bahkan batik ini pun akan mudah dikenali hanya dengan sekali lihat saja.

Batiksolo.ID 08118605394 adalah toko batik online yang menyediakan aneka kebutuhan batik anda.

Pusat Produksi Kain Pantai Solo

kain pantai solo

Jika mendengar kata Solo atau Surakarta, maka ada kemungkinan hal yang tercetus pertama kali di pikiran adalah batik. Batik merupakan salah satu jenis kain yang paling dikenal dari Indonesia. Batik juga sudah memiliki pengakuan internasional berupa pengakuan dari UNESCO, sehingga wajar saja apabila batik yang banyak dikenal. Namun, tidak hanya batik yang sudah pernah melanglang buana ke kancah Internasional. Terdapat juga jenis kain yang bahkan telah menjadi representasi Indonesia dalam Intermoda Expo 2018, suatu acara busana internasional yang diadakan di Guadalajara, Meksiko. Jenis kain tersebut adalah kain pantai solo khas buatan Mojolaban.

Jika dibandingkan dengan kain-kain yang lain seperti kain tenun Flores atau songket Palembang, memang kain pantai solo Mojolaban bisa dikatakan masih asing di telinga orang banyak. Jenis kain ini sendiri masih belum menjadi produk andalan Indonesia dalam pasar ekspor. Meskipun demikian, ketenaran kain pantai Mojolaban kini mulai perlahan naik, tidak hanya dalam segi kualitas, namun juga dalam segi produksinya.

Kecamatan Mojolaban berlokasi di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Lokasi tepatnya yaitu tujuh kilometer dari tenggara Kota Solo, berbatasan dengan sungai Bengawan Solo. Kecamatan ini dapat menghasilkan sekitar 2.000 meter kain pantai setiap harinya, yang merupakan hasil produksi baik dari industri rumahan ataupun dari pabrik-pabrik besar. Dalam salah satu desa di Mojolaban yang bernama Desa Gadingan, hampir setiap rumah yang ada di desa ini memiliki halaman yang digunakan untuk menjemur kain pantai. Dari hasil produksi tersebut, beberapa telah menembus pasar lokal seperti Yogyakarta dan Bali, dan beberapa perusahaan juga bahkan telah menembus titik ekspor.

Karena ketenaran kain pantai yang sedang naik, daerah Mojolaban kini perlahan menjadi kawasan wisata budaya. Wisatawan sudah mulai berdatangan, domestik ataupun mancanegara. Aktivitas yang dapat dilakukan di Mojolaban tidak hanya berbelanja kain, namun juga menonton proses produksi kain pantai itu sendiri, dari tahap pertama hingga tahap terakhir. Jika wisatawan tersebut beruntung dan datang pada saat yang tepat, maka pengunjung dapat melihat aksi kain-kain yang sedang dijemur di atas bukit-bukit hijau, yang membuat Mojolaban selayaknya lukisan abstrak raksasa. Https://batiksolo.id 08118605394 menyediakan kain pantai solo dengan harga terbaik.

Sejarah Batik Indonesia

sejarah batik indonesia

Pada tanggal 2 Oktober 2009, batik Indonesia diakui UNESCO sebagai “Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity, atau “Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi. Tanggal ini dijadikan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai Hari Batik Nasional, untuk memperingati pentingnya batik dalam seni budaya Republik Indonesia. Diakuinya batik sebagai warisan dunia menjadi titik penting dalam sejarah batik Indonesia. Memang, terlihat sederhana, namun kain batik yang kita pakai sehari-hari memiliki sejarah yang menarik untuk dipelajari.

Dalam etimologi, kata ‘batik’ sendiri berasal dari dua kata bahasa Jawa, yaitu amba yang berarti ‘menulis’ dan titik yang bermakna ‘titik’. Meskipun kata batik berasal dari bahasa Jawa, namun tidak ada catatan sejarah yang menuliskan kapan batik pertama kali dibuat. G.P. Rouffaer, seorang peneliti dan pustakawan Hindia Belanda saat itu, berpendapat bahwa teknik membatik sendiri pertama kali dikenalkan dari India atau Srilanka pada abad ke-6 atau ke-7, lalu kemudian dibawa ke Indonesia. Di sisi lain, J.L.A. Brandes, seorang arkeolog Belanda, dan F.A. Sutjipto, seorang sejarawan Indonesia, berargumen bahwa tradisi batik adalah budaya asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua.

Sejarah batik Indonesia sendiri sudah amat panjang, G.P. Rouffaer juga menuliskan bahwa pola batik gringsing sudah dikenal dari abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dirinya menyimpulkan bahwa pola yang rumit seperti pola batik gringsing ini hanya bisa diciptakan dengan alat bantu berupa canting, sehingga dirinya menyimpulkan bahwa canting telah ada di Jawa pada masa itu. Terdapat pula detail ukiran kain yang menyerupai pola batik dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi kebijakan Buddha dari Jawa Timur dari abad ke-13. Detail pakaian yang terukir berupa pola sulur tumbuhan dan kembang-kembangan, serupa dengan pola batik tradisional Jawa yang ditemukan sekarang. Hal ini memperkuat kesimpulan G.P. Rouffaer yang menyebutkan bahwa pola batik rumit yang hanya bisa dibuat dengan alat bantu canting telah dikenal di daerah Jawa sejak abad ke-13, atau bahkan lebih awal.

Sejarah batik Indonesia terus berkembang, bagaimanapun sejarah mencatat asal mula kain indah tersebut. Batik Indonesia juga sudah memiliki sepak terjang di kancah Internasional pada abad ke-19. Di literatur Eropa, batik pertama kali diceritakan dalam buku History of Java, yang ditulis oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada tahun 1873, seorang saudagar Belanda, Van Rijekevorsel, memberikan selembar kain batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia, kepada Museum Etnik di Rotterdam. Semenjak saat itu, batik mulai mencapai titik emas ketenarannya di kancah Internasional. Saat batik tersebut dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.

Seiring berjalannya waktu, dan berkembangnya teknologi, telah diciptakan cara-cara baru dalam memproduksi kain batik, seperti batik cap dan batik cetak. Batik-batik tersebut tetap dikategorikan sebagai batik khas Indonesia, meskipun diciptakan dengan mesin otomasi. Ada pula yang mempertahankan cara membatik tradisional menggunakan alat bantu canting, yang disebut batik tulis. Batik pun telah menyerap berbagai macam budaya sepanjang masanya, mulai dari budaya tradisional seperti Yogyakarta dan Surakarta, sampai budaya Internasional seperti Belanda dan Tionghoa. Dengan keanekaragaman batik yang ada sekarang, apalagi sudah diakuinya batik oleh organisasi dunia seperti UNESCO, sudah menjadi kewajiban bagi masyarakat Indonesia untuk melestarikan budaya batik agar tetap lestari.

BatikSolo.ID 08118605394 menyediakan aneka jenis batik Solo dengan harga terbaik.

Batik Indonesia : Dari Pakaian Kerajaan Hingga Fashion Show

batik indonesia

Batik Indonesia merupakan seni menghias kain dengan canting dan cairan lilin malam, yang dikembangkan di Indonesia dengan metode serta teknik membatik tersendiri. Budaya membatik sendiri sebenarnya sudah tumbuh di kawasan timur tengah, seperti Mesir, India, Turki, China, bahkan Jepang. Sebelum akhirnya masuk ke Indonesia, dan dimodifikasi sedemikian rupa kompleksnya, hingga menghasilkan corak yang khas dan bernilai seni tinggi. Kegiatan membatik merupakan tradisi turun menurun, sehingga suatu motif batik dapat dikenali berdasarkan suatu keluarga atau wilayah tertentu. Keindahan Batik Indonesia bahkan sudah tersebar di seluruh dunia, dan ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009.

Tradisi Batik Indonesia dibuktikan dengan sejumlah arca batu dari zaman Kerajaan Majapahit, sehingga berdasarkan hal tersebut, tradisi batik di Indonesia dimulai sejak masa itu. Arca batu Harihara, yang merefleksikan Raden Wijaya, terlihat menggunakan batik Kawung. Hal tersebut juga diperkuat dengan sisa-sisa peninggalan batik di wilayah Mojokerto dan Bonorowo, sebagai wilayah bekas Kerajaan Majapahit. Tradisi membatik sendiri pada awalnya hanya tumbuh dan berkembang di dalam wilayah kerajaan. Batik dinilai sebagai sesuatu yang eksklusif, yang hanya digunakan oleh raja dan para pembesarnya. Bahkan motif batik bisa menjadi wujud dari status seseorang. Hingga seiring berjalannya waktu, tradisi penggunaan batik mulai menjalar keluar kerajaan dan mulai banyak digunakaan oleh rakyat biasa. Walaupun sampai saat ini, terdapat beberapa motif batik tadisional yang hanya bisa dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Batik memang cukup identik dengan pakaian adat jawa, namun tidak cukup sampai disitu, batik pun kini sudah menjadi pakaian nasional bagi orang Indonesia. Penggunaan batik yang sudah tidak lagi hanya dengan bentuk kain, kini sudah marak digunakan dengan berbagai model pakaian pria maupun wanita. Bahkan batik pun digunakan sebagai pelengkap desain interior dan perlengkapan rumah tangga. Tidak hanya itu, penggunaan batik sebagai pakaian bahkan dibawa oleh para desainer lokal Indonesia, ke kancah internasional lewat pagelaran busana atau fashion show, dengan ragam model pakaian yang lebih modern.

BatikSolo.ID 08118605394 adalah toko batik online, yang menyediakan aneka kebutuhan batik dengan harga terbaik.