Blog

Kain Lurik, Pesona Kain Motif Sederhana

kain lurik

Berasal dari kata “lorek” dalam bahasa jawa, kain lurik memiliki arti corak dengan bentuk lajur atau garis. Di daerah Solo dan Yogyakarta, kain lurik dibuat menggunakan teknik amanan wareg (anyaman polos). Bahan dasar pembuatan kain lurik ini sendiri bisa terbuat dari bahan serat, kapas, serat kayu, serat sutera, hingga serat sintetis. Awal pembuatannya berangkat dari benang katun yang diberikan pewarnaan selama satu hari, yang kemudian dikeringkan dan tidak boleh terkena banyak sinar matahari. Setelah itu masuk ke proses pemintalan, dan yang terakhir adalah proses sekir atau proses pembuatan motif. Harga kain lurik cenderung lebih murah dibandingkan dengan kain batik lainnya. Hal ini dikarenakan adanya penggunaan mesin yang mencetak kain lurik sehingga membuat proses produksi menjadi lebih efisien dan cepat.

Pada dasarnya lurik memiliki 3 motif dasar, yakni:

  • Motif lajuran. Yaitu motif yang coraknya garis-garis panjang dan searah dengan sehelai kain.
  • Motif pakan malang. Motif ini memiliki corak garis-garis yang searah dengan lebar kain.
  • Motif cacahan. Sedangkan motif yang ini, memiliki corak yang cenderung kecil-kecil.

Pada awalnya, kain lurik ini motifnya masih sangat sederhana, hanya hitam, putih, atau kombinasi keduanya. Fungsi dari kain ini adalah sebagai status simbol dan fungsi ritual keagamaan. Dulunya kain ini memang banyak digunakan masyarakat sebagai pakaian sehari-hari. Untuk wanita, kain lurik biasa dijadikan sebagai kebaya. Sedangkan untuk laki-laki, biasanya hanya dijadikan sebagai bahan baju seperti sorjan. Kain lurik juga biasa dipergunakan sebagai bahan selendang yang berfungsi untuk menggendong tenggok. Motif lurik yang digunakan keluarga Keraton juga berbeda dengan yang digunakan dalam upacara adat. Begitu pula dengan motif di keraton yang berbeda-beda, seperti motif telupat untuk Abdi Dalam dan untuk tentara dibedakan berdasarkan daerah, ada namanya Jokokaryo, Ketambung, dan lain-lainnya. Kini, penggunaannya semakin beragam karena warna dan motifnya pun kian berkembang. Tidak hanya lagi di produksi menjadi pakaian dan bahan selendang, kain ini sudah bisa dinikmati dengan bentuk yang lebih fungsional lagi seperti tas, dompet, bahkan sepatu dan bebas digunakan oleh siapapun. 

Batiksolo.id 08118605394 merupakan toko batik online yang menyediakan aneka kebutuhan Batik anda, dengan berbagai kualitas.

Batik Lasem Pesona Batik Indonesia

batik lasem

Lasem merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah. Dulu, Lasem dikenal juga sebagai “Tiongkok Kecil”, dikarenakan kota tersebut merupakan kota awal pendaratan kaum Tionghoa di Tanah Jawa, yang menjadikan Lasem sebagai salah satu daerah yang memiliki perkampungan Tionghoa paling banyak. Dengan latar belakang daerah tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa motif pada batik lasem memiliki pengaruh Tionghoa yang kuat.

Salah satu ciri khusus Batik Lasem yang tidak akan ditemukan pada batik lain adalah warna merahnya, yang dikenal dengan nama warna abang getih pithik atau warna darah ayam. Warna ini terbuat dari akar mengkudu dan akar jiruk ditambah air Lasem yang kandungan mineralnya sangat khas. Warna darah ayam ini bahkan tidak bisa direplika di dalam laboratorium sekalipun. Warna merah tersebut sudah diakui sebagai warna merah terbaik yang tidak dapat ditiru pembuatannya di daerah lain.

Selain dari warna merahnya yang khas, Batik Lasem memiliki pembeda lainnya, yaitu pola dari batik itu sendiri. Motif Batik Lasem secara umum hanya ada dua motif, yaitu motif China dan non-China. Batik Lasem Motif Non-China, seperti namanya, tidak dipengaruhi oleh budaya Tionghoa. Motif ini didominasik oleh motif batik Jawa, diantaranya adalah motif Sekar Jagad, Kendoro Kendiri, Grinsing, Kricak atau Watu Pecah, Pasiran, Lunglungan, Gunung Ringgit, Pring-pringan, Pasiran Kawung, Kawung Mlathi, Endok Walang, dan banyak lainnya. Namun yang paling mudah untuk dibedakan adalah Motif Latohan, Sekar Jagad, dan Kricak atau Watu Pecah. Latohan merupakan buah dari tanaman yang hidup di tepi laut, sementara Sekar Jagad merupakan kumpulan motif bunga yang sedang terserak. Sedangkan Kricak atau Watu Pecah merupakan motif yang terinspirasi dari pembangunan jalan proyek Daendels.

Batik Lasem Motif China, yaitu batik tulis Lasem yang motifnya dipengaruhi oleh budaya China dan Tionghoa, memiliki unsur oriental yang sangat kental. Contoh yang paling kentara adalah pemakaian fauna pada pola batik, seperti motif burung hong (phoenix) yang dikenal sebagai Lok Can, naga (liong), kilin, ayam hutan, ikan emas, kijang, dan lain sebagainya. Selain Fauna, motif flora juga beberapa kali digunakan dalam motif batik lasem cina, seperti bunga seruni, peoni, magnolia, sakura, serta bambu. Motif motif dari Lasem ini memperkaya dan memberikan pesona tersendiri terhadap Batik Indonesia.

https://batiksolo.id 08118605394 adalah toko batik Online yang menyediakan aneka Batik dengan harga terbaik.

Makna Motif Batik Bunga

motif batik bunga

Motif batik merupakan suatu simbol dan ciri khas dari batik yang diproduksi suatu wilayah atau keluarga tertentu. Motif batik atau bisa disebut pola batik, memiliki pengertian sebagai suatu kerangka gambar dengan perpaduan garis, isen, dan bentuk tertentu yang mewujudkan batik secara keseluruhan. Motif batik bunga menjadi salah satu dari sekian banyak kelompok motif batik, yang didalamnya berisikan ragam jenis gambar bunga-bungaan hasil rasa dan cipta pengrajin batik. Motif batik bunga dan daun secara sederhana memiliki arti keindahan, kebahagiaan, dan kecantikan. Motif ini juga bisa berarti wahyu Tuhan, yang diberikan untuk menggapai suatu cita-cita. Seperti; kenaikan pangkat, penghargaan, kehidupan yang lebih baik, dan rezeki yang berlimpah.

Harapan dan keselamatan juga menjadi makna lain dari motif ini. Bagi masyarakat tradisional, harapan akan keselamatan, kebahagiaan, dan kesehatan adalah hal yang sangat penting. Karena berkaitan dengan keseimbangan alam yang serasi dan seimbang. Sehingga, pemaknaan akan motif batik dengan gambar bunga, dapat disimpulkan sebagai sebuah gambaran dari kehidupan manusia yang berselaras dengan alam. Keselarasan tersebut dicapai dengan saling menghormati sesama mahluk Tuhan, yakni tanaman. Hal tersebut juga diwujudkan manusia dengan cara menuangkannya dalam gambar bunga, lewat karya seni yang indah yaitu batik.

Secara lebih lanjut, pemaknaan dan pemanfaatan bunga juga digunakan diluar motif batik. Seperti penggunaannya dalam upacara-upacara ritual kebudayaan, misalnya; upacara pengantin. Bunga mawar, melati, cempaka, dan kenanga sangat dominan dalam pakaian maupun riasan yang digunakan oleh kedua mempelai pengantin. Bunga mawar, melati, dan cempaka digunakan untuk melengkapi dandanan wajah pengantin perempuan maupun laki-laki. Bunga melati digunakan untuk menghias sanggul belakang kepala dan bahu pada pengantin perempuan. Bunga-bunga tersebut disusun sedemikian rupa untuk membentuk satu susunan yang indah. Sedangkan untuk pengantin laki-laki, bunga mawar, melati, dan cempaka disusun untuk menghiasi keris pada pakaian yang digunakannya. Serta digunakan untuk menjadi keperluan hiasan pada kalung dan telinga. Selain itu, bunga sedap malam juga dimanfaatkan untuk menjadi penghias ruangan dalam upacara pengantin ini. Hal tersebut kemudian dimaknai lebih lanjut tentang keselarasan antara manusia dengan tanaman, dalam mewujudkan suatu hal yang sakral dan indah, yakni pernikahan.

Https://batiksolo.id 08118605394 adalah toko batik online yang menyediakan aneka motif batik dengan harga terbaik.

Batik Pekalongan Tradisi Batik Pesisiran

batik pekalongan

Batik Pekalongan salah satu batik yang memiliki nama besar di tanah air, bahkan menjadikan Kota Pekalongan mendapatkan sebutan kota batik. Pekalongan juga masuk ke dalam jaringan kota kreatif UNESCO dalam kategori crafts & folk art pada akhir tahun 2014, serta memiliki city branding sebagai World’s city of Batik. Kain Batik Pekalongan merupakan kain batik yang para pengrajinnya mayoritas tinggal di wilayah pesisir utara pulau Jawa. Karena adanya faktor pengaruh kebudayaan dari masyarakat sekitar yang sangat dinamis, sehingga menimbulkan kreativitas para pengrajin untuk selalu membuat motif batik yang baru. Batik pesisiran ini memiliki tradisi panjang jauh sebelum era kemerdekaan. Dengan salah satu maestro nya Eliza Van Zuylen yang memproduksi batik untuk peranakan Belanda ataupun Belanda, diera itu biasa disebut dengan Batik Belanda. Batik Buketan merupakan hasil karya fenomenal maestro ini yang bisa di nikmati hingga saat ini bahkan motif ini masih banyak dibuat oleh pengrajin Batik Pekalongan.

Proses produksi batik disini cukup unik, karena sebagian besar proses produksinya dilakukan di rumah-rumah. Dengan bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, dan bukan para pengusaha bermodal besar, menyebabkan batik Pekalongan menyatu sangat erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan. Batik  berkembang pesat di sekitar daerah pantai, yaitu daerah Pekalongan Kota, Buaran, Pekajangan, dan Wonopringgo. Kebudayaan masyarakat Pekalongan yang sangat dinamis, menjadikan Batik daerah ini dipengaruhi berbagai bangsa karena adanya proses percampuran budaya. Seperti dengan Tiongkok, Belanda, Arab, Asia, Melayu, serta Jepang, hal ini tidak lepas dari posisi Pekalongan yang ada di pesisir utara Pulau Jawa menjadikannya mudah didatangi oleh berbagai bangsa.

Percampuran kebudayaan tersebut mewarnai dinamika desain, pola, serta warna dari Batik Pekalongan. Hal itu menyebabkan beberapa jenis pola batik hasil pengaruh dari berbagai bangsa tersebut dikenal sebagai identitas dari Batik Pekalongan. Desain seperti Batik Jlamprang, yang dipengaruhi dari Negeri Asia serta Arab. Lalu batik Encim dipengaruhi oleh peranakan Tiongkok, Batik Belanda dengan buketannya serta Batik Hokokai, yang sudah tumbuh pesat sejak pendudukan Jepang. Dengan keanekaragaman sifat, kegunaan, jenis rancangan, dan mutu batik yang diciptakan karena faktor sejarah, kebudayaan, serta pemikiran baru, menyebabkan Batik Pekalongan menjadi dinamis, dan tidak menyerah dengan perkembangan zaman. Hal tersebut kemudian menjadi alasan mengapa Pekalongan layak menjadi ikon perkembangan batik di nusantara

Toko batik online https://batiksolo.id 08118605394 menyediakan aneka batik berkualitas dengan harga terbaik.

Batik Yogyakarta, Batik Tradisi Asli Indonesia

batik yogyakarta

Batik Yogyakarta atau Batik Jogja sendiri tidak bisa lepas dari sejarah berdirinya kerajaan Mataram Islam yang dibangun oleh Panembahan Senopati. Selama perjuangan mendirikan Mataram, Panembahan Senopati sering bertapa di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa. Konon, lansekap dan pemandangan tempat tersebut, yang dihiasi oleh deburan ombak menghantam barisan tebing atau dinding karang, telah menginspirasinya menciptakan pola batik parang. Motif ini kemudian menjadi motif yang khas dari busana Mataram.

Pada tahun 1755, terjadilah Perjanjian Giyanti. Perjanjian tersebut memecah Kasultanan Mataram menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Semua harta dan warisan budaya dibagi ke dua wilayah tersebut. Namun, khusus busana Keraton Mataram, yang didalamnya juga termasuk batik, seutuhnya milik Keraton Yogyakarta, sehingga kekhasan batik tersebut masik dipertahankan sampai sekarang, baik motif maupun warnanya. Corak batik yang didominasi oleh warna coklat tanah ini kemudian menjadi cikal bakal batik Yogyakarta.

Kata batik sendiri berakar dari Bahasa tradisional Jawa, yaitu kata tik. Kata tik tersebut merujuk pada pekerjaan menggunakan tangan yang halus, lembut, detail, serta berseni. Kata tik juga merujuk proses pembuatan corak kain batik dengan ‘menitikkan’ malam (lilin) dengan alat bernama canting, sehingga berbentuk corak yang terdiri atas susunan titik dan garis.

Beberapa jenis  batik Yogyakarta meiliki filosofi sebagai berikut,

  1. Motif Ceplok/Grompol Motif ini mencakup berbagai macam desain geometris, biasanya berdasar pada bentuk bunga mawar yang melingkar, bintang ataupun bentuk kecil lainnya, membentuk pola yang simetris. Grompol dalam Bahasa Jawa artinya berkumpul atau bersatu, melambangkan harapan orang tua akan semua hal yang baik berkumpul, yaitu rejeki, kerukunan hidup, kebahagiaan, dan lain sebagainya.
  2. Motif Kawung, berupa empat (4) lingkaran atau elips yang mengelilingi lingkaran kecil sebagai pusat, melambangkan empat arah angin, dalam hal ini melambangkan raja sebagai pusat yang dikelilingi rakyatnya.
  3. Motif ParangMotif parang biasa disebut juga sebagai motif batik keris atau pola pedang oleh masyarakat internasional. Parang merupakan salah satu motif batik paling kuat dari batik yang lain, berupa garis-garis tegas yang disusun secara diagonal paralel. Batik parang melambangkan kewibawaan, kekuasaan, kebesaran, serta gerak cepat.

http://batiksolo.id 08118605394 merupakan toko batik online yang menyediakan aneka kebutuhan batik anda.

Kampung Batik Laweyan Urat Nadi Batik Khas Solo

kampung batik laweyan

Kampung Batik Laweyan adalah nama yang tersohor sebagai pusat penghasil batik di kota Solo. Ciri khas kampung ini secara arsitektur mudah sekali dikenali, ciri rumah produksi batik di kampung ini memiliki tembok yang menjulang tinggi dengan nuansa tradisional. Tembok yang menjulang tinggi tersebut bertujuan untuk melindungi privasi pengusaha batik. Sebagian besar penduduk kampung Laweyan adalah pengusaha batik yang dilakukan di rumah mereka masing-masing. Kawasan yang terletak di Jalan Dr. Radjiman nomor 521 ini menjadi tujuan wisata populer di kota Solo. Wisatawan tak hanya disuguhkan kekhasan arsitektur bangunan namun juga bisa belajar membatik disini, baik batik tulis maupun batik cap. Kawasan wisata kampung batik Laweyan buka dari hari Senin-Sabtu.

Asal penamaan kampung Batik Laweyan berasal dari kata ‘lawe’ yang miliki makna material bahan jenis kain. Sejatinya, bila dibandingkan dengan usia keraton Solo sendiri wilayah Laweyan lebih tua, karena kampung Laweyan sudah ada sejak jaman Keraton Pajang. Kerajaan Pajang merupakan awal mula keberadaan keraton Kartasura dan Surakarta. Petilasannya saat ini masih bisa ditelusuri di wilayah kecamatan Pajang. Tokoh yang terkenal yang mengajarkan masyarakat kampung Laweyan membuat batik adalah Kyai Ageng Henis, beliau merupakan keturunan dari Raja Brawijaya V. Kelak cucu Ki Ageng Henis bernama Sutawijaya kemudian yang menjadi raja pertama kerajaan Mataram. Seiring berjalannya waktu produksi batik yang dilakukan massal oleh penduduk kampung Laweyan berkembang pesat sehingga menjadikan Laweyan menjadi sentra produksi batik. Banyak saudagar-saudagar besar yang lahir dari kegiatan ini, sehingga timbullah istilah Mbok Mase di kalangan saudagar batik Laweyan. Mbok Mase adalah julukan untuk saudagar batik perempuan di kampung Laweyan. Berkat batik pula berdiri organisasi kebangsaan yang belakangan juga menjadi wadah pejuang nasional untuk mengupayakan kemerdekaan. Organisasi tersebut adalah Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh H.Samanhudi. Awalnya organisasi ini hanya bertujuan untuk mewadahi kegiatan produksi batik namun berubah menjadi salahsatu organisasi kebangsaan.

Kejayaan Kampung Batik Laweyan berada pada puncaknya pada periode 1800-an, namun memasuki tahun 1970 ketika industri batik printing dari Cina mulai masuk ke Indonesia batik Laweyan menjadi lesu. Para pengusaha batik yang saat itu masih bertahan berada pada kondisi hidup segan mati tak mau. Jumlah pengusaha batik menurun drastis, tidak ada regenerasi karena generasi muda penduduk kampung Laweyan tidak melihat batik sebagai usaha yang menjanjikan seperti masa silam. Namun saat periode 2000-an batik mulai menunjukkan geliatnya kembali. Salah satu tokoh kampung Laweyan menggagas didirikannya wisata Kampung Batik Laweyan, ide ini kemudian disetujui oleh Joko Widodo yang saat itu masih menjabat sebagai walikota Solo. Saat ini sudah ada lebih dari 75 pengusaha batik serta sebanyak 215 motif batik berasal dari Laweyan sudah dipatenkan.

Jika berkunjung ke kota Solo bertandang ke kampung batik Laweyan menjadi suatu pengalaman yang berkesan. Gaya arsitektur bangunannya yang kental nuansa kuno sayang bila diabaikan begitu saja, workshop dapur batik untuk merasakan pengalaman langsung membuat secarik kain batik, serta wisata belanja batik berkualitas mulai dari batik tulis, batik cap ataupun batik kombinasi antara cap dan tulis, http://batiksolo.id 08118605394 toko batik online menyediakan batik solo produk Kampung Batik Laweyan.

Batik Garutan Batik Khas Kota Garut

batik garutan

Batik Garutan orang menyebutnya, batik khas Kota Garut  dengan ciri khas nya tersendiri. Bentuk motif batik Garut merupakan hasil dari cipta rasa pengrajin, terhadap kehidupan sosial budaya, falsafah hidup, dan adat istiadat masyarakat sunda. Contoh ragam motif batik Garut hadir dengan bentuk geometrikal serta motif flora dan fauna dengan ciri khas ragam hiasnya tersendiri. Bentuk nyata dari motif geometrikal, seperti; garis diagonal dan bentuk kawung atau belah ketupat. Warna krem menjadi warna yang mendominasi kain batik, disertai warna-warna cerah lainnya, yang menjadi karakteristik khas batik garutan.

Keberadaan batik Garut merupakan warisan dari nenek moyang, yang sudah berlangsung secara turun menurun, dan dulunya tercipta karena hasil pengaruh kuat penduduk yang datang dari Jawa Tengah. Pada masa perang Diponegoro melawan Belanda, terjadi perpindahan penduduk besar-besaran ke wilayah barat pada tahun 1825. Sebagian pengungsi adalah para pengrajin batik Jawa Tengah, yang kemudian memberikan pengaruh pada batik Tasikmalaya, Indramayu, dan Garut. Bahkan pada tahun 1945, batik Garut menjadi semakain populer dan disebut sebagai Batik Tulis Garutan. Batik ini mencapai masa kejayaannya pada tahun 1967 hingga 1985.

Dulu, batik Garut memiliki proses pembuatan dan pewarnaan yang sangat rumit. Keindahan warna pada batik Garut ini bersumber pada proses pengetelah atau penggodokan kain sebagai bahan dasarnya. Sebelum digambar dengan lilin malam, kain batik mengalami proses pengetelah selama kurang lebih satu bulan. Kain direndam dalam campuran minyak kacang dan air merang. Lalu kemudian di jemur hingga kering, dan proses tersebut dilakukan berulang kali selama dua minggu. Setelah dua minggu, kain diembunkan, dan digantung tanpa terkena cahaya matahari langsung. Proses pengetelan tersebut idealnya dilaksanakan selama 40 hari. Ketika proses tersebut usai, kain akan berwarna mengkilap, tidak mudah luntur, dan bahkan bisa tahan hingga lebih dari 100 tahun. Namun proses seperti itu kini sudah jarang dilakukan karena tidak efisien dan efektif lagi untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Sayangnya kini karena keterbatasan bahan dan modal, serta lemahnya strategi pemasaran, penerus dari pengrajin batik Garut sudah mulai mengalami penurunan. Hal tersebut juga disebabkan karena adanya persaingan antar produsen batik lain, yang dalam pembuatan batiknya menggunakan teknik batik lebih modern seperti mesin printing. Untuk mendapatkan batik ini anda bisa menghubungi toko batik online http://batiksolo.id 08118605394 aneka batik nusantara dengan beragam kualitas tersedia disini. 

 

Ciri Khas Batik Madura

Ciri khas batik Madura dengan keindahannya yang penuh warna dan esensi seni bercita rasa unggul. Lewat motifnya, batik madura menceritakan tentang kehidupan sehari-hari masyarakat sekitar Madura itu sendiri. Sehingga menghasilkan corak yang berbeda di setiap desain batik pada kain. Ide ragam corak motif batik madura bersumber dari motif hewan, tumbuhan, serta kombinasi keduanya atau bahkan berdasarkan selera pengrajin. Berdasarkan lokasi pembuatannya, Motif Batik Madura terbagi ke dalam dua jenis. Pertama, motif batik daerah pesisir. Menonjolkan warna-warna terang yang cukup berani pada motifnya. Yang kedua, motif batik daerah pedalaman. Motif ini lebih menonjolkan warna-warna lembut yang redup dan corak yang klasik. Satu ciri khas dalam motif batik madura yang sangat menonjol adalah dengan keberadaan garis-garis dominan yang terdapat pada desain batiknya. Setiap desain batik madura memiliki cerita dan filosofi uniknya sendiri, karena timbul atas representasi terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat Madura.

Seiring perkembangan zaman, motif batik madura pun dikembangkan oleh para pengrajinnya dengan cara menyesuaikan zaman, agar dapat diterima oleh semua kalangan. Motif-motifnya pun disesuaikan dengan mode saat ini, namun tetap menggunakan ciri khas batik madura seperti dominasi warna merah pada bunga dan hijau pada daun atau tangkai. Saat ini warna dan corak batik dari Madura memang sudah lebih variatif dari sebelumnya. Sehingga sudah banyak yang mengincar batik madura ini dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Sejarah Motif Batik Madura pun masih terkait dengan peran kerajaan Pamelingan di Pamekasan, Madura. Dalam sejarahnya, batik madura berkembang pada abad ke-16 hingga abad ke-17 masehi. Saat terjadi peperangan di Pamekasan Madura Raden Azhar (Kiai Penghulu Bagandan) melawan Ke’ Lesap (putera Madura keturunan Cakraningrat I) tersebar kabar bahwa Raden Azhar mengenakan pakaian kebesarannya, yang menggunakan model baju batik motif parang atau motif batik leres dalam istilah bahasa madura. Sejak saat itu batik pun diperkenalkan di wilayah Madura.

Toko batik online http://batiksolo.id 08118605394 menyediakan aneka batik berkualitas yang bisa dibeli secara online dengan aneka jenis pilihan kualitas baik untuk eceran ataupun grosiran.

Motif Batik Mega Mendung Pesona Batik Cirebon

batik mega mendung

Motif Batik Mega Mendung merupakan motif kain batik yang berasal dari Cirebon. Dengan ciri khas motif yang menyerupai bentuk awan-awan, motif batik ini menjadi sebuah ikon karya seni kota Cirebon memiliki pesona yang luar biasa. Kekhasan motif ini tidak hanya terletak pada motif yang berupa gambar menyerupai awan dengan warna-warna tegas saja, namun juga pada nilai-nilai filosofi yang terkandung dalam motifnya.

Lebih jauh lagi tentang filosofi Motif Batik Mega Mendung ini, kata ‘mendung’ sendiri berarti sebuah sifat manusia yang tidak mudah marah dan sabar. Ketika diterapkan dalam kehidupan nyata, ternyata makna tersebut diartikan sebagai wujud dari para seniman batik yang telaten, tidak mudah emosi, serta penyabar. Hal tersebut juga dimaknai lebih lanjut untuk para pemakainya, diharapkan pengguna motif ini dapat menjadi sosok pribadi yang sabar, bisa mendinginkan suasana, dan memiliki pribadi yang baik. Dalam motif batik ini, gambar awan yang dibuat secara horizontal dimaksudkan agar si awan mendung tersebut dapat mendinginkan suasana di bawahnya. Pasalnya, memang segala hal yang berhubungan dengan motif ini syarat akan makna mendalam, termasuk bagi orang-orang disekitarnya.

Makna Motif Batik Mega Mendung lainnya yang lebih mendalam dapat dilihat dari penggunaan warna pada proses pembatikkan. Unsur warna biru dengan selingan warna merah yang dulu selalu digunakan, menggambarkan maskulinitas dan juga suasana dinamis. Karena pada saat itu proses pembuatannya disertai dengan campur tangan laki-laki kaum tarekat yang sedari awal memang merintis tradisi batik di Cirebon. Warna biru dan merah tua juga secara psikologis menggambarkan masyarakat pesisir yang lugas, terbuka, dan egaliter. Ragam warna biru yang digunakan mulai dari warna biru muda yang menggambarkan makin cerahnya kehidupan, hingga biru tua yang menggambarkan awan gelap dengan kandungan air hujan dan memberi kehidupan.

Sedangkan untuk sejarah Motif Batik Mega Mendung sendiri berawal dari kedatangan bangsa China ke wilayah Cirebon, yang terutama merujuk pada pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Ratu Ong Tien pada abad ke-16. Bermula dari adanya proses percampuran kebudayaan lah kemudian rakyat Cirebon mulai mengenal beberapa benda seni seperti piring, keramik, dan kain yang bermotif awan. Di China, awan direpresentasikan oleh Kaum Sufi sebagai wujud dari konsep yang luas dan bebas. Kemudian hal ini menjadi perhatian para seniman batik Cirebon untuk menuangkannya ke dalam kain batik, dan menciptakan suatu nama motif baru yaitu Motif Batik Mega Mendung. Yang membedakan motif batik China dengan batik Mega Mendung terdapat pada pola bentuk awan. Motif batik China memiliki garis awan berbentuk lingkaran atau bulatan, sedangkan batik Mega Mendung berbentuk lonjong, segitiga, dan cenderung lancip.

http://batiksolo.id 08118605394 menyediakan aneka motif batik termasuk motif megamendung ini dengan berbagai kualitas dengan harga ecer ataupun grosiran.

Batik Cirebon Dan Batik Sumenep Pesona Batik Nusantara

batik cirebon

Batik Cirebon dan Batik Sumenep juga memiliki pesonanya sendiri, khazanah batik Nusantara tak hanya dimonopoli oleh sentra batik yang ada di Jawa Tengah seperti Solo, Jogja, dan Pekalongan. Ujung barat dan timur pulau Jawa juga menyimpan kekayaan batik yang khas. Di barat pulau Jawa asal daerah pembuat batik yang termasyur adalah Cirebon, sedangkan di timur Jawa terdapat batik Sumenep, Madura.

Batik Cirebon dibedakan menjadi dua, yakni batik keratonan dan batik pesisir. Batik keratonan dipengaruhi oleh keberadaan dua kerajaan di Cirebon, yakni keraton Kasepuhan dan Kanoman. Sedangkan pada batik pesisiran dipengaruhi oleh karakter masyarakat pesisir yang terbuka maka batik pesisiran merupakan hasil akulturasi berbagai etnis yang ada di pesisir Cirebon. Etnis Tionghoa membawa pengaruh  yang dapat ditemui pada motif mega mendung. Filosofi dari mega mendung ialah seperti pada kepercayaan Tionghoa, bahwa hujan dipercaya membawa kesuburan dan pembawa kehidupan.

Motif batik Cirebon pada dasarnya dapat digolongkan dalam lima jenis. Pertama, Wadasan. Motif wadasan memuat ornamen-ornamen khas keraton. Motif-motif wadasan diantaranya Singa Payung, Naga Saba, Taman Arum, Mega Mendung. Kedua, Geometris. Motif yang meniru bentuk geometri berulang, contoh motifnya adalah Tambal Sewu, Liris, Kawung, Lengko-lengko. Ketiga, Pangkaan (buketan). Menampilkan ornamen berupa rumpun pohon atau rangkaian bunga dan terdapat pola butung atau kupu sebagai ornamen pelengkap. Motif Pangkaan antara lain: Pring Sedapur, Kelapa Setundun, Soko Cino, Kembang Terompet. Keempat, Byur. Ciri khas motif ditandai dengan ornamen pelengkap bunga dan dedaunan kecil yang mengelilingi ornamen utama. Contohnya dapat dijumpai pada motif Karang Jahe, Mawar Sepasang, Dara Tarung, Banyak Angrum. Kelima, Semarangan. Motif ini menampilkan pola ceplok-ceplokan dengan ornamen berulang yang letaknya saling renggang. Contoh motifnya adalah Piring Selampad dan Kembang Kantil. Motif yang sangat khas dari Cirebon dan menjadi ikon adalah batik dengan corak Mega Mendung. Batik dengan corak ini tidak dimiliki oleh daerah lain.

Beralih ke bagian timur pulau Jawa, tepatnya ke Madura. Madura tak hanya tersohor dengan sate atau karapan sapi saja, ternyata batik Madura juga memiliki keunikan corak. Terdapat beberapa daerah penghasil batik di Madura, salah satunya di sentra batik Pakandangam, Bluto, Sumenep. Ciri khas batik Sumenep ialah adanya pewarnaan merah yang diterapkan  pada setiap ornamen bunga, daun, bahkan tangkai. Batik Sumenep juga termasuk batik pesisir yang banyak dipengaruhi oleh etnis Tionghoa. Warna-warna pada batik Sumenep cenderung cerah. Batik asal Sumenep yang menjadi buruan para kolektor batik adalah batik gentongan. Disebut demikian, karena proses perendaman kain batik dilakukan dalam sebuah gentong. Yang menjadikan batik ini diburu dan harganya sangat mahal ialah terletak pada proses pewarnaannya yang memakan waktu sangat lama, yakni 3-6 bulan. Keunikan batik gentongan ialah semakin dicuci maka warna yang dihasilkan akan semakin cerah.

Http://batiksolo.id 08118605394 toko batik online yang menyediakan aneka batik berkualitas dari berbagai daerah di Nusantara.

Motif Batik Pernikahan Adat Jawa

motif batik pernikahan

Motif batik pernikahan adalah salah satu fase penting dalam proses persiapan pernikahan adat Jawa. Sebagai orang jawa, setiap fase kehidupan tersebut tak bisa lepas dari pemakaian kain batik. Tak hanya sekedar desain gambar atau bentuk flora dan fauna, motif batik klasik memiliki filosofi dan makna sebagai doa dan harapan. Motif batik yang dipakai dalam prosesi adat Jawa gaya Surakarta berbeda antara motik jarik yang dipakai oleh mempelai pengantin dan orang tuanya.

Motif batik yang biasa dikenakan oleh mempelai pengantin beserta filosofinya antara lain:

  1. Motif Wahyu Tumurun. Secara harfiah wahyu berarti anugerah, tumurun artinya turun. Filosofinya bahwa diharapkan mempelai pengantin akan diliputi rasa kebahagiaan, kesejahteraan, serta limpahan petunjuk dari Tuhan Maha Kuasa.
  2. Motif SidoMukti. Filosofi yang ada dalam motif batik Sido Mukti ialah mengandung harapan akan masa depan yang baik bagi kedua mempelai berdua.
  3. Motif Sido Luhur. Motif ini memiliki makna berupa harapan agar pemakainya berbudi luhur, senantiasa berdoa serta selalu bersyukur atas anugerah Tuhan.
  4. Motif Sido Mulyo. Mulyo dalam bahasa Jawa berarti kemuliaan. Motif batik ini mengandung harapan agar pemakainya kelak saat membina rumah tangga mampu menjadikan keluarga yang mendapat kemuliaan.
  5. Motif Sido Asih. Asih dalam bahasa Jawa berarti cinta kasih. Filosofinya ialah agar mempelai berdua mampu menjalankan rumah tangga dengan penuh rasa kasih sayang.

Motif batik yang dikenakan oleh orangtua mempelai pengantin tidak sama seperti yang dipakai calon pengantin. Para orangtua memakai motif berbeda karena memang motif batik yang dipakai memiliki filosofi dan harapan yang berbeda dengan sang pengantin. Motif-motif batik yang biasa digunakan oleh orangtua mempelai dalam adat pernikahan jawa gaya Surakarta antara lain:

  1. Motif Sidodrajat. Motif ini memiliki makna kedudukan atau pangkat yang bagus. Motif ini menyimpan harapan dan doa kepada Tuhan agar nantinya anak yang dinikahkan memiliki kedudukan atau pangkat yang tinggi.
  2. Motif Wirasat. Motif Wirasat mengandung makna bahwa orangtua akan selalu memberi nasehat serta menuntun anak-anak mereka dalam menjalani kehidupan berumah tangga.
  3. Motif Truntum. Motif ini memuat filosofi bahwa orangtua akan selalu menuntun mempelai pengantin dalam menghadapi setiap ujian dan cobaan selama menjalankan kehidupan berumah tangga.

BatikSolo.ID 08118605394 menyediakan aneka motif batik pernikahan dengan harga terbaik.

 

Sejarah Batik Solo

sejarah batik solo

Sejarah Batik Solo dimulai pecahnya kerajaan Jawa ini menjadi tiga bagian, menurut perjanjian Giyanti tahun 1755 kerajaan Mataram dibagi menjadi dua yang Kasunanan yang berkedudukan di Surakarta serta Kesultanan yang ada di Yogyakarta. Namun adanya pemberontakan dari Raden Mas Said membuat wilayah kekuasaan Kraton Surakarta menjadi menyempit. Pemecahan wilayah ini disebutkan dalam perjanjian Salatiga tahun 1757. Menurut perjanjian Salatiga penguasa Mangkunegaran berhak menyandang gelar pangeran, namun tidak berhak menyandang gelar sunan. Pura Mangkunegaran sebenarnya tidaklah tepat dikatakan sebagai keraton. Pura Mangkunegaran adalah sebuah pura kediaman pangeran karena disana tidak dijumpai tahta untuk raja sebagaimana yang ada di keraton Kasunan.

Dari sinilah sejarah batik Solo dimulai, meskipun sama-sama mendiami tanah Solo, keduanya tetap memiliki ciri khas masing-masing. Begitu pula halnya dalam karya batik. Batik Solo terkenal dengan warnanya yang cenderung gelap, dominan hitam, coklat, atau krem. Sedangkan dari segi motif, batik Solo punya ciri khas motifnya yang berbentuk geometris serta ukurannya yang kecil-kecil. Dari segi warna, keduanya tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Mangkunegaran tetap menerapkan warna coklat sogan dalam batik-batiknya hanya saja batik Mangkunegaran cenderung coklat kekuningan. Bila ditinjau dari segi kekayaan motif, batik milik Pura Mangkunegaran lebih punya banyak kreasi modifikasi dibanding batik Keraton Kasunanan.

Beberapa hasil kreasi seniman Mangkunegaran antaralain adalah Buketan (rangkaian bunga) Pakis, Sapanti Nata, Wahyu Tumurun, Parang Kesit Barong, Parang Sondhen, Parang Klithik Glebag Seruni, Liris Cemeng, serta Buketan paris. Motif batik Mangkunegaran mengesankan keluwesan dibandingkan batik Keratonan yang masih mempertahankan motif-motif pakem untuk ageman (pakaian) keluarga kerajaan. Motif-motif batik yang mencirikan batik Keratonan antara lain motif Parang, Kawung, Truntum, Sawat, Sidomukti, Satrio Manah, dan Semen Rante. Diantara motif batik yang dimiliki oleh keraton Solo, ada beberapa motif yang terlarang digunakan untuk rakyat biasa. Yakni motif Parang, Udan Liris, dan Semen Agung.

Batik awalnya dibuat oleh putri kerajaan dan abdi dalem untuk keperluan kalangan istana, namun lambat laun kebutuhan untuk lingkup istana sendiri tidak tercukupi jika hanya mengandalkan hasil batikan dari putri istana atau abdi dalem saja. Sejak saat itu batik menjadi usaha rumahan abdi dalem yang tinggal tak jauh dari istana. Batik sungguh sangat cepat menjadi populer, sehingga batik yang awalnya hanya diproduksi untuk keperluan keluarga istana mulai dijadikan produk komoditi oleh para pembuat batik. Batik tidak hanya hasil dari sebuah kreasi yang bernilai seni tinggi, namun batik juga menjadi penanda status sosial masyarakat Jawa. Hal ini ditunjukkan oleh sejarah penciptaan batik untuk kalangan istana yang hanya dikerjakan pula di dalam tembok istana, juga pelarangan beberapa motif batik yang hanya diperuntukkan bagi raja, demikian sedikit artikel tentang sejarah batik Solo. BatikSolo.ID 08118605394 adalah toko batik online yang menyediakan aneka kebutuhan batik anda.