Batik Motif Geometris dan Non Geometris

batik motif geometris

Batik masa kini kaya akan ragam motif atau corak, apalagi semenjak ditemukannya sebuah aplikasi yang membantu desainer modern untuk mendesain motif batik yang akan menjadi busana yang mereka ciptakan. Terkadang mereka tidak terlalu memperhatikan falsafah yang dibawa pada setiap motif, namun hal itu bukan menjadi masalah besar karena permintaan pasar juga tidak selalu sepaham dengan falsafah batik, mereka cenderung hanya menilai batik dari segi keestetisan corak semata. Motif batik yang kaya dan corak yang beragam sesungguhnya merupakan hasil dari kombjnasi bentuk-bentuk yang berada di alam. Bila menurut pada pakem yang sudah ada, sebenarnya motif batik dapat digolongkan kedalam dua kategori yang paling dasar yaitu batik motif geometris dan motif batik non geometris.

Batik motif geometris adalah batik yang memiliki ornamen berbentuk geometri. Bentuk geometri diantaranya dapat berupa segiempat, segitiga, lingkaran, maupun belah ketupat. Ciri khas batik motif geometris adalah motifnya yang mudah dibagi menjadi perbagian yang disebut “raport”. Berdasarkan raportnya motif geometris dibedakan lagi menjadi dua, yakni raport dengan pola lingkaran/segiempat dan raport yang tersusun dengan pola garis miring. Contoh motif batik geometris raport segiempat/lingkarang adalah golongan ceplokan, banji, kawung, . Sedangkan contoh batik motif geometris raport garis miring ialah golongan parang dan udan riris. Oleh karena motifnya yang berupa bagun geometri yang simetris yang setiap raportnya identik, maka batik dengan motif ini sering dibuat dengan teknik batik cap.

Batik motif non geometris adalah motif dengan bentuk ornamen yang meniru objek-objek di alam, seperti tumbuhan, binatang, gunung, atau bisa juga berupa bangunan seperti candi. Tumbuhan yang dipakai untuk motif ini biasanya berupa bunga, tumbuhan bersulur, pohon hayat, sedangkan dari golongan binatang lebih banyak seperti naga, garuda, kijang, kupu-kupu, burung huk atau phoenix. Pada batik dengan motif non geometris, ornamen utama letaknya tersebar di seluruh kain yang akan dibatik dengan jarak yang relatif teratur, kemudian pada setiap jarak antara ornamen utama satu dengan lainnya terdapat ornamen pelengkap. Contohnya dapat kita jumpai pada motif truntum. Pada motif truntum, ornamen utamanya berupa gurdo atau sawat, sedangkan ornamen pelengkapnya adalah bunga berukuran kecil dengan jarak dan bentuk yang identik satu sama lain, lalu isen-isennya terdapat kombinasi antara cecek dan sawut. Contoh motif batik yang menggunakan pakem non geometris adalah golongan semen dan buketan.

Ornamen yang dipilih untuk menghias kain batik klasik tentunya tidaklah sembarangan, karena setiap objek mewakili filosofi tersendiri yang berkaitan dengan cara hidup orang Jawa. Pakem dalam pembuatan batik klasik masa kini tidak bersifat mengikat seperti ketika masa pemerintahan Mataram masih berlaku, perkembangan jaman mempermudah generasi muda membuat desain motif sesuai kreasi mereka. Bahkan beberapa waktu silam beberapa mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Semarang menciptakan motif batik dengan ornamennya meniru bentuk sel manusia. Tentunya filosofi yang ingin disuarakan ialah awal mula kehidupan manusia yang berawal dari komponen terkecil sebuah sel. Seni batik tak hanya wajahnya yang indah namun nilai pelajaran yang dibawanya juga memuat pesan keluhuran. BatikSolo.ID 08118605394 adalah toko batik online yang menyediakan aneka batik berkualitas

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *