Pembuatan Batik Tulis Secara Tradisional

pembuatan batik tulis

Proses pembuatan Batik Tulis adalah saalah satu alasan batik ditetapkan sebagai warisan dunia kategori tak benda oleh UNESCO yang melalui beberapa tahap yang memerlukan ketekunan. Membuat batik memang memerlukan ketelatenan, karena sehelai kain batik saja bisa memerlukan waktu hingga berbulan-bulan lamanya. Tak mengherankan jika sehelai kain batik tulis dihargai dengan sangat tinggi. Dalam pembuatan batik, dikenal beberapa teknik. Setidaknya ada tiga teknik pembuatan batik, antara lain batik tulis tradisional, batik kesikan (lorodan), dan batik pesisiran.
Pada teknik pembuatan batik tulis tradisional, terdapat tujuh tahapan yang dilalui. Teknik ini hanya dapat dihasilkan dengan pewarna biru indigo dan soga. Berikut tahapan pembuatan batik tulis tradisional.
1. Mbathik atau Nglowong. Mbathik atau juga dikenal dengan istilah ngelowongi adalah tahapan pertama yaitu melapisi kain yang sudah berpola dengan canting. Ngelowong dari asal kata klowong. Klowong merujuk pada jenis malam yang digunakan, sehingga aktifitas yang berkaitan dengan penggunaan malam ini disebut ngelowongi. Ngelowongi juga dibagi lagi menjadi dua tahap. Pada salah satu sisi aktifitas ngeliwongi disebut dengan ‘ngengreng’ sedangkan melapisi malam pada sisi lain kain disebut ‘nerusi’. Malam yang dipakai sebaiknya tidak terlalu ulet agar mudak diproses pada tahap berikutnya.
2. Nembok. Nembok adalah menututp bagian pola yang akan dibiarkan berwarna putih. Tahapan ini berfungsi untuk menghalangi cairan pewarna agar tidak merembes pada bagian kain yang ingin dibuarkan berwarna putih. Jenis malam yang baik untuk digunakan pada tahap ini ialah sifatnya yang ulet dan teksturnya kuat.
3. Medel. Tahap ini ialah proses pewarnaan kain yang telah selesai diklowongi dengan teknik pencelupan untuk warna dasar. Letika belum ditemukan pewarna sintetis bahan pewaena alami digunakan untuk pewarna batik adalah tanaman indigo yang menghasilkan warna biru serta soga yang menghasilkan warna coklat. Karena sifatnya yang relatif lama diserao oleh serat kain dibanding pewarna sintetis, maka pencelupan dengan pewarna alami harus dilakukan berulang kali.
4. Ngerok atau Nggirah. Tahap ini bertujuan menghilangkan malam pada bagian-bagian yang telah diklowongi dengan warna soga. Alat bantu dalam tahap ini disebut cawuk (semacam pisau tumpul) untuk mengerok malam.
5. Mbironi. Tahap ini ialah menutup bagian-bagian yang sudah berwarna biru dengan malam. Tujuannya agar bagian-bagian tersebut tetap berwarna biru. Mbironi juga dilalukan dikedua sisi kain.
6. Nyoga. Mencelup kain dengan pewarna soga. Proses ini harus dilakukan secara berulang seperti proses medel. Jika pewarna yang dipakai adalah pewarna alami. Setelah selesai dicelup kain dikeringkan pada udara terbuka.
7. Nglorod. Nglorod adalah proses terakhir. Nglorod berasal dari kata dasar ‘lorot’ dalam bahasa Jawa berarti ‘meluruh’, sehingga proses ini bertujuan untuk meluruhkan semua lapisan malam yang masih menempel pada kain.

BatikSolo.ID 08118605394 menyediakan aneka kain Batik Solo berkualitas dengan harga bersahabat,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *