Blog

Motif Batik Sido, Cinta Kasih Pada Sehelai Batik

motif batik sido

Motif Batik  Sido Surakarta yang diawali dengan kalimat “sido” mempunyai makna suatu pengharapan, kemudian bila dirangkai dengan kata selanjutnya maka akan bermakna suatu pengharapan tertentu. Seperti contohnya motif batik Sidomukti, ‘mukti’ artinya kesejahteraan. Dengan begitu motif batik Sidomukti mempunyai makna pengharapan untuk kehidupan yang sejahtera. Demikian halnya dengan motif batik lain yang diawali kata ‘sido’, maka mengantung suatu doa. Pada pembahaan kali ini akan membicarakan tentang motif Sidoasih. ‘Sido’ bermakna harapan, sedangkan ‘asih’ bermakna cinta kasih. Karena mengandung filosofi pengharapan bagi kehidupan baru yang lebih bahagia dan sejahtera maka batik-batik dengan awalan ‘sido’ dipakai dalam rangkaian prosesi pernikahan adat Jawa.

Dari segi tipe bentuk motifnya, jika diperhatikan dengan seksama motif-motif batik yang berawalan kata ‘sido’ memiliki kecenderungan berupa bentuk geometris. Pada masyarakat kebanyakan pasti akan mengira bahwa motif-motif tersebut merupakan variasi, padahal dari segi bentuk karakter yang mewaliki filosofi setiap motif berbeda satu sama lain buakn hanya sekedar variasi dalam pewarnaan atau gambar ornamen semata. Pada motif Sidoasih ciri yang paling menonjol dibandingkan dengan motif ‘sido’ yang lain yakni merupakan perpaduan antara Sidomulyo yang berlatar putih dan Sidomukti yang berlatar coklat kekuningan. Pada Sidoasih kedua motif tersebut dipadukan berselang-seling.

Batik-batik dengan motif berawalan ‘sido’ ini biasa digunakan dalam acara pernikahan adat Jawa karema filosofinya yang memuat harapan untuk kebaikan dalam kehidupan. Motif Sidoasih biasanya dipakai oleh kedua mempelai pengantin ketika malam pengantin. Harapannya dengan memakai motif Sidoasih pengantin berdua akan selalu diliputi rasa cinta kasih dalam menjalankan kehidupan berumahtangga. Karena motif ini masih secara luas dipakai oleh masyarakat untuk kepentingan pernikahan, maka batik dengan motif-motif ‘sido’ termasuk Sidoasih diproduksi oleh produsen batik atau sanggar-sanggar batik secara massal.

Meskipun kini penggunaan kain batik sudah lazim dipakai dalam berbagai acara, namun lebih bijaksana bila kita tahu makna atau filosofi dibalik setiap motifnya. Hal ini merupakan salah satu cara untuk melestarikan dan memahami kebudayaan Jawa serta motif batik sido pada khusunya. Apabila anda butuh panduan berkeliling Solo, kami merekomendasikan web Wisata Solo sebagai acuannya.

Motif Klasik Batik Solo Beserta Asal Usulnya

motif klasik batik solo

Motif  Klasik batik Solo yang populer hingga saat ini, baik itu untuk pakaian pada prosesi pernikahan atau hanya untuk pemakaian sehari-hari kebanyakan dari desain motif batik “sido” karena fiosofinya yang memuat pengharapan untuk kehidupan yang sejahtera dan bahagia. Beberapa motif batik yang kurang populer ternyata salah satu diantaranya ialah merupakan motif batik tertua yang ada di Nusantara, berikut beberapa penjelasan motif batik Surakarta beserta asal-usulnya.

  1. Motif Gringsing.

Motif batik Gringsing membentuk pola yang menyerupai sisik ikan. Gringsing adalah salah satu motif batik tertua. Ilmuan asal Belanda Rouffaer menyatakan bahwa gringsing sudah disebutkan pada sekitar kurun waktu abad ke-12 di Kerajaan Kediri, Jawa Timur. Gringsing biasanya dipakai sebagai motif dasar, ornamen utamanya ada yang berupa buketan, atau pola bunga dengan isen-isen berupa cecek. Gringsing klasik biasanya berwarna biru indigo atau merah kesumba karena masih menggunakan teknik pewarnaan menggunakan bahan-bahan alami. Filosofi batik Gringsing adalah sebagai simbol keseimbangan, kemakmuran, dan kesuburan.

  1. Motif Nitik/Jlamprang.

Motif klasik batik Solo,Jlamprang sesungguhnya adalah salah satu motif batik pesisir (Pekalongan), di Yogja dan Surakarta, motif serupa dinamakan motif nitik. Nitik berasal dari kata “tik” yang berarti tetesan. Akar kata ini juga mempunyai padanan makna dengan “tik” pada kata batik, sehingga para ilmuan menyatakan bahwa motif ini adalah motif yang paling kuno diantara yang lain. Di Solo, motif batik ini memeang kurang populer, namun di Pekalongan, motif Jlamprang sangat populer, produksi batik ini berada di daerah Krapyak, Pekalongan. Motif nitik/jlamprang merupakan pengembangan dari motif patola. Patola adalah pola kain tenun yang bermotif geometris, karena terinspirasi dari kain tenunan, maka motif nitik/jlamprang berbwntuk pola segiempat yang menyerupai anyaman. Patola di Jawa lebih familiar disebut dengan kain cinde. Batik Jlamprang lebih berkembang di daerah pesisir, hingga saat inj, jlamprang masih digunakan pada acara-acara adat di Pekalongan. Motif cakar yang terdapat pada nitik/jlamprang dipercaya terisnpirasi oleh bentuk cakra, senjata Dewa Wisnu yang menyerupai roda. Karena motif jlamprang/nitik digunakan dalam kegiatan ritual, maka filosofi yang terkandung didalamnya ialah sebagai perlambang kehidupan, penyambung antara dunia manusia dengan pencipta.

  1. Motif Sekar Jagad

Motif Sekar Jagad termasuk dalam kategori pola tambal. Motif tambal berbentuk geometris dengan detailnya berupa motif parang, ceplok atau truntum. Motif geometris tambal diantaranya ialah tambal kitiran dan tambal sripamiluta, motif yang paling populer ialah Kar Jagad (Sekar Jagad). Sekar Jagad tergolong motif tambal yang tidak geometris. Pola tambal pada Sekar Jagad sesungguhnya membentuk peta gambaran dunia. Kar berasal dari bahasa Belanda kaart yang berarti peta. Sering kali, kata kar ini membingungkan karena mirip dengan sekar dalam bahasa Jawa yang berarti bunga. Karena hal itulah motif Kar Jagad menjadi Sekar Jagad, perubahan penyebutan ini mengakibatkan perubahan makna. Sekar Jagad diartikan menjadi bunga alam semesta. Pemaknaan ini tidak benar karena motid Kar Jagad sesungguhnya menggambarkan peta dunia.

  1. Ceplok Kasatriyan.

Pola ceplok atau ceplokan secara umum termasuk kategori pola geometris berupa persegiempat, lingkaran atau bintang. Pada dasarnya ceplok merupakan pola geometris dengan ornamen abstrak atau unsur kehidupan beruoa tumbuh-tumbuhan atau binatang. Filosofi motif batik ceplok kasatrian agar pemakainya terlihat gagah seperti seorang kesatria. Kain ini dipakai untuk kirab pengantin.

Masih banyak lagi berbagai motif klasik batik Solo yang hingga saat ini masih bertahan,meskipun sudah banyak juga dikombinasikan dengan motif lain. Untuk mendapatkan aneka jenis batik ini njenengan bisa berburu di pusat belanja batik Solo secara langsung ataupun secara online dari web batik solo ini.

 

Pembuatan Batik Tulis Secara Tradisional

pembuatan batik tulis

Proses pembuatan Batik Tulis adalah saalah satu alasan batik ditetapkan sebagai warisan dunia kategori tak benda oleh UNESCO yang melalui beberapa tahap yang memerlukan ketekunan. Membuat batik memang memerlukan ketelatenan, karena sehelai kain batik saja bisa memerlukan waktu hingga berbulan-bulan lamanya. Tak mengherankan jika sehelai kain batik tulis dihargai dengan sangat tinggi. Dalam pembuatan batik, dikenal beberapa teknik. Setidaknya ada tiga teknik pembuatan batik, antara lain batik tulis tradisional, batik kesikan (lorodan), dan batik pesisiran.
Pada teknik pembuatan batik tulis tradisional, terdapat tujuh tahapan yang dilalui. Teknik ini hanya dapat dihasilkan dengan pewarna biru indigo dan soga. Berikut tahapan pembuatan batik tulis tradisional.
1. Mbathik atau Nglowong. Mbathik atau juga dikenal dengan istilah ngelowongi adalah tahapan pertama yaitu melapisi kain yang sudah berpola dengan canting. Ngelowong dari asal kata klowong. Klowong merujuk pada jenis malam yang digunakan, sehingga aktifitas yang berkaitan dengan penggunaan malam ini disebut ngelowongi. Ngelowongi juga dibagi lagi menjadi dua tahap. Pada salah satu sisi aktifitas ngeliwongi disebut dengan ‘ngengreng’ sedangkan melapisi malam pada sisi lain kain disebut ‘nerusi’. Malam yang dipakai sebaiknya tidak terlalu ulet agar mudak diproses pada tahap berikutnya.
2. Nembok. Nembok adalah menututp bagian pola yang akan dibiarkan berwarna putih. Tahapan ini berfungsi untuk menghalangi cairan pewarna agar tidak merembes pada bagian kain yang ingin dibuarkan berwarna putih. Jenis malam yang baik untuk digunakan pada tahap ini ialah sifatnya yang ulet dan teksturnya kuat.
3. Medel. Tahap ini ialah proses pewarnaan kain yang telah selesai diklowongi dengan teknik pencelupan untuk warna dasar. Letika belum ditemukan pewarna sintetis bahan pewaena alami digunakan untuk pewarna batik adalah tanaman indigo yang menghasilkan warna biru serta soga yang menghasilkan warna coklat. Karena sifatnya yang relatif lama diserao oleh serat kain dibanding pewarna sintetis, maka pencelupan dengan pewarna alami harus dilakukan berulang kali.
4. Ngerok atau Nggirah. Tahap ini bertujuan menghilangkan malam pada bagian-bagian yang telah diklowongi dengan warna soga. Alat bantu dalam tahap ini disebut cawuk (semacam pisau tumpul) untuk mengerok malam.
5. Mbironi. Tahap ini ialah menutup bagian-bagian yang sudah berwarna biru dengan malam. Tujuannya agar bagian-bagian tersebut tetap berwarna biru. Mbironi juga dilalukan dikedua sisi kain.
6. Nyoga. Mencelup kain dengan pewarna soga. Proses ini harus dilakukan secara berulang seperti proses medel. Jika pewarna yang dipakai adalah pewarna alami. Setelah selesai dicelup kain dikeringkan pada udara terbuka.
7. Nglorod. Nglorod adalah proses terakhir. Nglorod berasal dari kata dasar ‘lorot’ dalam bahasa Jawa berarti ‘meluruh’, sehingga proses ini bertujuan untuk meluruhkan semua lapisan malam yang masih menempel pada kain.

Bila anda sedan bereda di Solo dan ingin mengunjungi tempat penjual batik,anda bisa langsung menuju ke pusat penjualan Batik solo.

Batik Printing Tekstil Yang Bermotif Batik

batik printing

Teknologi sudah merasuk di segala segi kehidupan manusia saat ini. Kegiatan manusia yang dibantu oleh teknologi menjadi lebih cepat dan lebih tepat guna. Tak terkecuali pada industri batik. Perkembangan jaman menuntut para pengusaha batik untuk mampu memenuhi pesanan. Dengan permintaan yang tinggi, maka pengerjaan batik dituntut selesai dalam waktu singkat.   Maka dengan alasan itulah terciptalah batik printing. Batik printing  mengandung motif batik didalamnya, namun tidak serta merta dapat pula disebut sebagai batik begitu saja. Batik printing sesungguhnya lebih tepat dikatakan sebagai tekstil yang memiliki motif batik.

Karena waktu pengerjaannya yang cepat serta biaya produksi yang lebih rendah, batik printing begitu cepat merebut hati para konsumen. Karena kepopuleran batik, masyarakat ingin memiliki batik namun dengan harga terjangkau demi mengikuti tren. Bahkan karena kepopulerannya, beberapa waktu yang lalu muncullah motif batik yang disisipi dengan logo klub sepak bola kenamaan dunia. Produksi batik ini laris manis dipasaran.

Teknologi memang tidak selalu membawa dampak positif, perkembangan pesat batik printing mematikan induatri batik tulis dan cap. Gejala industri batik tulis yang mulai merosot sebenarnya sudah dimulai pada tahun 1970-an. Produksi tekstil dari Cina yang mulai masuk ke Indonesia mampu membaca kebutuhan pentingnya kain batik untuk masyarakat Indonesia, sehingga mereka menciptakan tekstil dengan motif batik intuk konsumsi Indonesia.

Namun bila melihat perkembangan kepopuleran batik tradisional (batik tulis) sekarang, pengusaha batik harus optimis produknya menjadi pilihan utama konsumen dalam negeri. Untuk mencapai hal itu dibutuhkan beberapa hal, yakni perihal brand, kualitas, serta standar yang bagus. Dengan memperhatikan branding, yakni mempopulerkan kembali batik, apakah batik sejatinya sehingga masyarakat memahami bahwa dengan membeli batik tulis bukan hanya membeli selembar kain untuk bahan pakaian semata namun mereka juga membawa pulang karya seni yang luhur warisan budaya sehingga masyarakat akan lebih mengapresiasi. Kualitas memang didapatkan dengan biaya produksi yang terbilang tidak sedikit, namun kualitas yang bagus akan menempati kepercayaan konsumen dengan mudah. Terakhir adalah standar, standar yang ditetapkan oleh pengusaha batik tulis akan lebih baik jika tidak terpengaruh oleh daya beli masyarakat. Standar batik yang baik, akan memperoleh pangsa pasar yang lebih sedikit, namun dibalik itu batik akan dihargai lebih baik oleh pembelinya. Untuk mendapatkan batik yang berkualitas anda bisa masuk kedalam submenu katalog di web Batiksolo ini

Metode Pembuatan Batik Cap dan Kombinasi

batik cap

Dalam industri batik, dikenal pula batik cap dan batik kombinasi. Asal penamaan kedua jenis batik ini berasal dari metode pembuatannya. Seperti namanya, batik cap diciptakan dengan cara dicap atau distempel dengan canting khusus cap, sedangkan batik kombinasi adalah perpaduan antara batik tulis dengan batik cap. Proses pembuatan batik cap memiliki beberapa langkah yang sama dengan batik tulis, yang membedakan ialah pada batik cap kain distempel dengan canting cap. Canting ini dibuat dari tembaga dengan rata-rata berukuran 20cm x 20cm. Pertama, kain mori diletakkan pada bidang datar yang telah diberi alas yang empuk. Selanjutnya canting cap dicelupkan pada cairan malam panas yang sudah disiapkan dan dicapkan pada kain. Proses pewarnaan dan peluruhan malam sama seperti pada batik tulis. Hanya saja jika pada batik cap menghendaki warna lebih dari satu maka motif yang sudah ada ditimpa kembali dengan malam setelah proses pewarnaan pertama. Proses pembuatan motif baru pada batik cap lebih rumit dibanding pada batik tulis karena membutuhkan ketepatan memposisikan canting agar kesesuaian antarmotif terjaga. Warna kain batik cap cenderung lebih awet dibandingkan dengan jenis batik lainnya karena proses pewarnaannya yang berulang-ulang.

Pada batik kombinasi metode pembuatannya tentu mengadopsi dari kedua teknik tulis dan cap. Teknik cap digunakan sebagai motif dasar sedangkan teknik tulis untuk melengkapi runga jeda antarmotif cap satu dengan yang lain. Motif untuk mengisi bagian yang kosong tersebut (isen-isen) dapat berupa titik-titik (cecek), bunga atau motif lainnya. Selanjutnya teknik pewarnaan serta peluruhan malam sama seperti pada teknik pembuatan batik lainnya.

Ada tips untuk membedakan ketiga jenis batik tersebut, ketiganya memiliki ciri masing-masing antara lain, batik tulis: bentuk ornamen atau motif dasar antar satu dengan yang lain tidak ada yang identik sama, hal ini disebabkan pengerjaannya yang manual. Sedangkan bentuk isen-isen cenderung lebih rapi. Batik cap: ornamen atau motif utama identik satu sama lain. Isen-isen cenderung tidak rapi karena pada proses pengecapan terdapat malam yang porsinya terlalu banyak (mbleber). Warna kain lebih mengkilap, serta warna dikedua sisi sama. Batik kombinasi: motif dasar identik satu sama lain sedangkan isen-isen cenderung lebih rapi dibanding teknik cap karena pengerjaannya secara manual.

Dari segi harga tentu batik tulis menempati harga tertinggi dibanding jenis batik lainnya. Karena selain prosesnya yang panjang batik tulis merupakan hasil karya seni karena merepresentasikan kreasi pembuat pola motifnya. Apapun jenis kain batik yang menjadi pilihan, satu hal yang menjadi catatan penting. Batik sesungguhnya merujuk pada proses penciptaan serta filosofi yang terkandung ketika dikenakan bukan semata-mata selembar kain bermotif tradisional. Dengan mengenal wajah batik yang sesungguhnya semoga kita bisa lebih mencintai budaya kita.

 

Proses Pembuatan Batik Tulis

batik tulis

Sejak batik diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO ditahun 2009, pamor batik seakan bangun dari tidur panjangnya. Seluruh lapisan masyarakat dari yang tua hingga muda beramai-ramai mengenakan batik. Para generasi muda menemukan kepercayaan diri mereka mengenakan baik yang selama ini terlanjur terbentuk stereotipe bahwa batik hanya milik kaum tua dan cenderung terlalu terlihat formal. Kesan keformalan itulah yang selama ini dihindari oleh kaum muda urban. Batik semakin populer bukan hanya di dalam negeri, namun juga mancanegara semenjak tokoh pejuang HAM Afrika Selatan, Nelson Mandela sangat gemar mengenakan batik-batik asal Indonesia dalam acara-acara resmi kenegaraannya.

Batik diakui sebagai warisan budaya tak benda karena memenuhi beberapa kriteria. Kriteria tersebut antara lain batik mengandung simbol dan filosofi yang mewakili kehidupan masyarakat Indonesia. Corak dan warna batik mengekspresikan kreativitas dan spriritualitas masyarakat Indonesia. Batik dinilai sebagai identitas Indonesia karena setiap fase kehidupan masyarakat Indonesia menggunakan kain batik, dan disetiap fase tersebut mengenakan kain batik dengan motif yang mengandung makna masing-masing. Jika batik diakui sebagai warisan tak benda, lantas secarik kain bermotif khas yang familiar kita pakai baik sebagai baju atau kain penutup sudahkah tepat dikatakan batik?

Pengertian pertama yang harus diluruskan adalah, bahwa yang diakui oleh UNESCO sejatinya adalah rangkaian proses pembuatan batik yang khas serta makna filosofi yang terkandung pada setiap motif batik. Bukan semata-mata secarik kain yang familiar kita gunakan sebagai baju atau pakaian lainnya. Pakaian yang biasa kita kenakan meskipun bercorak dan motif batik tapi jika cara pembuatannya adalah printing maka tidak tepat jika kain itu disebut batik. Tetapi hanya kain yang motifnya batik, seperti halnya kain yangbbermotif bunga atau kain bermotif garis. Mengapa batik hasil printing tidak bisa serta-merta disamakan dengan batik sesungguhnya? Berikut perjalanan panjang sehelai kain mori menjadi batik.

Pertama, menggambar motif batik atau disebut tahap ‘nyoret’ . Pada tahap ini orang yang bertugas membuat pola adalah orang yang tahu betul macam-macam motif batik sesuai pakemnya. Selain itu juga dibutuhkan keterampilan untuk memperkirakan hasil akhir setelah menjadi kain batik.

Kedua, disebut tahap ‘nglowongi’ atau melukis motif dengan malam klowong yang sudah dipanaskan. Tahap ini juga biasa disebut tahap ‘ngengrengi’ karena menggunakan canting rengrengan. Pada dasarnya tahap ini hanya membuat outline motif saja, nantinya bagian yang tertutup oleh malam/lilin ini tidak akan berwarna sedangkan bagian yang tidak dilukis akan memiliki warna sesuai warna yang dikehendaki.

Ketiga, tahap pewarnaan. Dalam tahap ini terdapat dua teknik, yaitu teknik celup dan colet. Teknik celup ialah mencelupkan seluruh bagian kain dalam air yang telah mengandung pewarna, sedangkan teknik colet ialah mewarnai perbagian-bagian kain dengan warna berbeda. Teknik colet ini cocok digunakan untuk kain yang memiliki banyak warna. Teknik colet dilakukan dengan cara membentangkan kain dengan diapit kayu kemudian memilih bagian kain dengan melukis sesuai warna diinginkan. Kelebihan teknik colet adalah warnanya yang beragam, namun kekurangannya terletak pada proses pembiatannya yang relatif lama. Sedangkan teknik celup kelebihannya lebih cepat namun bila menginginkan warna yang beragam harus menutup motif lagi dengan malam berulang-ulang hingga diperoleh warna yang diinginkan.

Keempat, tahap ‘melorot’ atau meluruhkan malam pada kain. Proses ini bertujuan untuk melepaskan lapisan lilin yang menempel saat tahap nglowong. Proses ini dilakukan dengan cara memasukkan kain yang sudah selesai diwarnai kedalam air mendidih, malam akan meleleh dan meluruh bersama air. Kain yangbsudah terbebas dari malam kemudian dikeringkan dan jadilah kain batik yang sesungguhnya.

Begitu panjang proses pembuatan batik tulis, maka tak heran bila batik tulis dihargai sangat tinggi. Disamping proses pembuatannya yang panjang penciptaan motif batik juga memerlukan kreatifitas meskipun sudah ada pakem tersendiri. Dalam perkembangannya penciptaan batik tidak hanya melalui proses tulis saja, namun terdapat teknik pembuatan batik cap dan batik kombinasi, yakni perpaduan antara batik tulis dengan batik cap.

Batik Tambal Pamiluto Kesembuhan dalam Sehelai Kain

tambal pamiluto

Batik dikenakan oleh masyarakat Jawa disetiap fase kehidupannya, dari lahir hingga meninggal dunia. Sudah hal wajar masyarakat Jawa mengetahuinya, namun sedikit yang menyadari bahwa setiap fase kehidupan manusia diwakilkan pada selembar kain batik dengan motifnya. Bagi orang Jawa yang paham dengan hal ini, motif pada batik merupakan doa dan pengharapan.

Motif batik yang merepresentasikan harapan agar orang yang sakit agar cepat kembali mendapatkan kesehatannya ialah pada motif Tambal Pamiluto. Asal-usul motif ini ialah konon jaman dulu ada seorang pendeta yang memakai kain yang penuh tambalan, kaema si pemakai adalah pemuka agama pada waktu itu maka tambalan-tambalan kain pada pakaian pendeta itu dipercaya sebagai penolak bala. Kain dengan motif  Tambal Pamiluto pada jaman dulu dipakai untuk menyelimuti orang yang sakit karena dalam kepercayaan mereka orang yang sedang menderita suatu penyakit seperti kain yang sobek, untuk memulihkannya kembali maka kain itu harus ditambal. Setelah diselimuti dengan kain ini diharapkan akan menyembuhkan yang sakit. Motif Tambal Pamiluto memiliki pola geometris disisi segitiga atas sedangkan bagian segitiga bawah berisi motif floral , tersusun secata teratur motifnya memuat beragam motif sehingga mengesankan bahwa kain ini seperti ditambal.  Ada cerita lain juga tentang motif ini yang dipercaya sebagai alat pemikat dari asal kata pamiluto atau pulut perekat yang akan menciptakan daya tarik terhadap pemakainya. Motif Tambal Pamiluto sendiri terdiri dari unsur motif ceplok, meru, parang dan sebagainya.

BatikSolo.id juga menyediakan batik jenis tambal pamiluto ini, terbuat dari kain berkualitas tinggi dan dikerjakan dengan teknik batik tulis

Motif Batik Parang Dari Segi Filosofinya

motif batik parang

Pada pembahasan sebelumnya sudah dipaparkan makna dan filosofi motif batik klasik kawung. Motif selanjutnya yang akan dibahas adalah motif batik Parang. Menurut asal penamaannya parang berasal dari kata pereng (lereng). Konon motif batin ini diciptakan oleh Panembahan Senopati saat beliau melakukan meditasi di pantai Selatan. Beliau terinspirasi oleh karang yang rusak oleh terjangan ombak. Motif parang memiliki bentuk dasar leter S yang melambangkan ombak yang bergulung dan bentuk dasar S tersebut saling menjalin menunjukkan adanya kesinambungan.

Motif batik parang termasuk dalam motif yang terlarang digunakan oleh rakyat jelata. Lebar atau sempitnya goresan motif parang yang dipakai menunjukkan status sosial yang berbeda. Secara filosofis, batik parang mengandung makna petuah untuk tidak menyerah ibarat kuatnya ombak laut yang mampu memecah karang, serta jalinan yang berkesinambungan memberi petuah untuk selalu memperbaiki dari dalam hal apapun, baik kesejahteraan maupun pertalian kekeluargaan. Batik motif parang menjadi simbol bagi kesatria yang pulang dari medan perang dengan kemengan.

Seperti halnya motif kawung, motif batik parang juga terbagi menjadi beberapa jenis. Yang pertama motif Parang Rusak. Motif inibterinspirasi oleh tebing pantai yang mampu dirusak atau dikikis oleh kuatnya ombak pantai.  Parang Rusak melambangkan perjuangan keras dalam diri manusia yang berjuang mengendalikan nafsu mereka untuk mencapai kebijaksanaan dalam kehidupannya. Kedua, motif Parang Barong. Motif ini memiliki goresan yang lebih lebar dibandingkan Parang Rusak. Parang Barong diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma. Parang Barong melambangkan petuah kehati-hatian dan kewaspadaan sebelum bertindak sesuatu. Ketiga, motif Parang Klitik. Motif jenis ini memiliki giresan oarang yang cenderung halus. Ukurannya parangnya lebih kecil dan mencitrakan feminitas. Batik jenis Parang Klitik biasa dipakai oleh para puteri raja. Filosofi yang terkandjng didalamnya ialah sifat kelemah lembutan, perangai dan perilaku halus, serta kebijaksanaan. Keempat, motif Parang Slobog. Motif jenis ini biasa dipakai dalam acara pelantikan. Parang Slobog melambangkan keteguhan dan kesabaran. Filosofi pada Parang Slobog sebagai pakaian untuk pelantikan adalah harapan agar pemimpin yang dilantik sanggup mengemban tugasnya secara amanah yang diikuti oleh kebijaksanaan.

Batiksolo.id menyediakan motif klasik parang ini dengan menggunakan bahan berkualitas dari katun berkualitas tinggi hingga sutra.

 

Motif Batik Kawung Dari Segi Filosofinya

motif batik kawung

Kepopuleran batik memang banyak membawa dampak positif bagi berbagai pihak, namun ditengah-tengah popularitasnya kini motif batik yang kaya filosofis menjadi kabur. Masyarakat modern cenderung membeli batik hanya berdasarkan selera estetis semata, motif batik dengan berbagai kombinasi corak dinilai dari segi elok dipandang mata, bukan filosofi yang terkandung didalamnya. Beberapa motif batik klasik Solo kini sudah bukan menjadi ageman eksklusif di dalam keraton saja, banyak pedagang batik tulis halus di Pasar Klewer yang menjual motif-motif tersebut.

Untuk menambah pemahaman seputar batik, tidak ada salahnya mempelajari filosofi batik melalui motif-motifnya sebelum membeli atau bahkan memutuskan untuk menjadi seorang kolektor batik. Pada bagian pertama ini motif yang akan dibahas adalah motif batik Kawung.

Asal-usul penamaan kawung berasal dari sejenis tumbuhan jenis kelapa-kelapaan. Penampakan kawung lebih mirip seperti kolang-kaling. Ciri motif batik kawung adalah penataannya yang rapi tersusun secara geometris. Kawung juga diinterpretasikan sebagai bunga teratai sebagai simbol kesucian. Interpretasi tersebut mendapat pengaruh dari kepercayaan Hindhu-Budha yang memandang bunga teratai sebagai simbol kemurnian.

Motif batik kawung juga memiliki keberagaman. Keberagaman motif kawung biasanyabdapat diamatibdari ukuran besar kecilnya bulatan yang terbentuk pada motif. Terdapat tiga macam kawung. Penamaan jenis kawung ini diidentikkan dengan ukuran logam mata uang kuno jaman dulu, yaitu picis, bribil, dan sen. Picis adalah jenis kawung yang memiliki bulatan paling kecil diantara yang lain. Picis adalah mata uang yang nilainya paling rendah. Bribil mempunyai bulatan lebih besar dibanding picis dan nilainya setengah dari mata uang sen, sedangkan kawung yang bulatannya paling lebar adalah kawung sen. Jenis kawung ini mempunyai bulatan terbesar dibanding picis dan bribil.

Dahulu, motif kawung hanya diijinkan dipakai oleh kalangan kerajaan atau pejabat saja karena filosofi dari batik ini adalah mempunyai pengharapan agar manusia selalu ingat asal-usulnya. Orang yang memakai motif kawung mencerminkan kepribadiannya yang sanggup menjaga keseimbangan dalam kehidupannya, mampu mengendalikan hawa nafsu dan menjaga kemurnian hati nurani.

BatikSolo.id menyediakan motif kawung dengan menggunakan bahan kain dari katun berkualitas hingga sutra kualitas tinggi dan di buat menggunakan metode cap ataupun tulis.

 

Motif Batik Truntum: Cinta yang terus berkembang

batik motif truntum

Salah satu batik klasik yang dimiliki oleh Surakarta adalah motif batik Truntum. Penamaan truntum berasal dari kata tumaruntum yang dalam bahasa Jawa berarti tumbuh berkembang. Ciri motif truntum adalah berupa motif kecil berbentuk menyerupai kerlip bintang dengan pewarnaan coklat khas batik Surakarta dengan warna dasar mengambil warna hitam. Motif truntum memerlukan ketekunan dalam pembuatan secara tulis karena memiliki detail yang sangat rapi.

Menurut asal-usul sejarah penciptaannya, motif truntum diciptakan oleh Gusti Kanjeng Ratu Kencana permaisuri Pakubuwono III dalam keadaan hatinya yang sedih. Saat itu GKR Kencana yang dipersunting raja belum juga berputra, perhatian raja berkurang kepadanya dan lebih senang bertandang menemui selirnya. Menyadari akan hal itu permaisuri merasa sedih hatinya dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan merenung. Dari renungan itulah sang permaisuri mendapat ilham untuk menciptakan batik bermotif bunga tanjung berukuran kecil-kecil. Dimulailah kegiatan beliau membatik untuk mengusir rasa sedih. Hari demi hari ia habiskan waktu untuk membuat batik. Hal ini lama kelamaan mencuri perhatian raja, kemudian ia mulai memperhatikan hal apa gerangan yang membuat permaisurinya begitu suka mengambil waktu sendiri. Raja tertarik dengan motif batik yang nampak seperti kerlip bintang yang dibuat oleh permaisurinya. Dan cinta kasih Pakubuwono III kemudian bersemi kembali setelah tahu bahwa kain batik ini dipersembahkan untuknya sebagai simbol kesetiaan dan cinta kasih GKR Kencana kepada beliau.

Motif batik truntum memiliki filosofi ketulusan cinta kasih yang terus berkembang (tumaruntum). Karena latarbelakang penciptaannya tersebut, motif truntum dilestarikan pada prosesi pernikahan adat Jawa gaya Surakarta. Motif ini dikenakan oleh orangtua pengantin. Tujuan pemakaian oleh orangtua mempelai mengandung makna bahwa orangtua akan mampu menjadi contoh cinta kasih yang telah mereka lalui menurun dan semakin berkembang cinta kasih itu menurun kepada mempelai pengantin.

Pada perkembangannya,  motif batik truntum sekarang dikreasikan dengan kombinasi motif batik lain demi kebutuhan industri. Contohnya batik truntum dikombinasikan dengan motif cakar, sawat, atau babon angrem. BatikSolo.id juga memiliki koleksi motif batik truntum menggunakan bahan kain berkualitas tinggi dan dikerjakan dengan metode batik tulis.